Pertama Kali Tertipu

Cuaca Bondowoso akhir-akhir ini HOT banget! Udah panas, debu dimana-mana, kendaraan macet. Wah udah deh, bener-bener sukses  bikin mood jadi nggak baik.

Eh, tapi tunggu. Bondowoso macet? Nggak salah tuh? Enggak dong, kota kecil kaya Bondowoso juga bisa macet. Penyebabnya ada dua hal, pertama karena ada karnaval atau festival, dan yang kedua macet kalau kamu pulang kerjanya barengan sama waktu pulang anak sekolahan. Wah itu pasti macet deh. -____-

Nah, macet yang ke dua ini yang sering saya alami kalau hari jum’at. Kadang bete, tapi kadang juga seneng. Lah kok seneng? Iya, kadang suka seneng lihat anak-anak sekolah itu. Mereka mengingatkan saya waktu jaman sekolah dulu. Apa lagi kalau sudah berhenti di lampu merah dekat SMA saya. Melihat anak-anak berseragam SMA sedang berjalan menuju perempatan untuk  mendapatkan angkot, saya jadi inget suatu kejadian.

……….

Masih lekat dalam ingatan, dulu saya sering jalan di trotoar itu bersama teman-teman. Kadang kami jalan dua-dua, kadang tiga-tiga, kadang satu-satu sambil bercanda dan saling mendahului.

Suatu hari, saat kami sedang melewati trotoar itu, ada seorang kakek tua yang datang menghampiri dan   tiba-tiba berkata “Nak, saya minta uangnya buat suntik”. Kakek itu kemudian mengangkat kaos lusuhnya dengan tangan gemetar dan berkata lagi “Saya sakit di sini…” (jangan dibaca “sakitnya di sini”:mrgreen: )

Kontan saja, saya dan teman-teman langsung kebingungan. Ada perasaan takut, tapi ada perasaan kasihan juga. Lalu saya beranikan diri untuk bertanya.

“Sampean sakit apa Pak? Mau suntik di mana? Sama siapa?”

Bapak tua itu tetap saja bilang “saya mau suntik, di sini sakit..” sambil menunjuk-nunjuk perutnya yang sebelah kiri.

“Iya, sama siapa Pak suntiknya? Bapak ini dari mana?” saya tetap berusaha bertanya karena merasa khawatir. Bapak tua itu benar-benar gemetar.

“Saya dari sana…” tangannya menunjuk entah kemana, seperti mengisyaratkan kalau rumahnya itu jauh. Lalu bapak itu menceritakan kalau tadi malam dia tidur di sini (di bawah telpon umum). Dia kedinginan lalu katanya dia bertemu dengan seorang teman yang memiliki becak. Temannya sekarang pergi dan menitipkan becaknya pada Bapak itu. Tapi sampai sekarang temannya tak kembali. Kami menjadi bertambah iba pada bapak itu.

“Saya mau suntik…” katanya

“Sama siapa Pak? Ayo kami antar” kata saya.

“Nggak usah… Nggak usah… Ini, saya mau pergi dengan becak saja. Saya minta uang untuk suntik.”

Teman-teman saya terlihat seperti iba namun dari raut wajahnya seperti menyimpan tanda tanya “Ini beneran?“. Jadi mereka enggan untuk memberikan sebagian uang saku pada bapak itu. Entah mengapa, melihat ekspresi mereka saya menjadi bertambah iba pada bapak itu.

Di tas ada uang saku untuk satu minggu. Saya mengambil lima ribu untuk diberikan pada bapak itu. Lima ribu bagi saya waktu itu bukan jumlah yang kecil. Tapi karena terlanjur iba, saya berikan saja. Kemudian saya pikir-pikir lagi. Apa cukup uang segitu untuk suntik? Akhirnya saya berikan lagi lima ribu rupiah pada Bapak itu.

“Mau di antar Pak?”

“Nggak.. Nggak usah…” katanya sambil buru-buru menuju becaknya. Perlahan-lahan, bapak tua  itu menghilang di tikungan jalan.

Teman-teman saya semua pada protes. “Kok berani banget kasih uang segitu banyak? Gimana kalau itu penipu?” kata mereka. Saya memang merasa sedikit menyesal. Tapi membayangkan wajah bapak itu, buru-buru saya hilangkan perasaan itu.

Keesokan harinya, ada salah satu teman yang menghampiri saya.

“Nis, katanya kemarin kamu ketemu bapak tua yang pake becak di perempatan lampu merah sana ya?”
“Iya… Kasian fin. Bapaknya itu gemetar…”
“Itu penipu nis…”

DEG. Seketika saya langsung syok. “Kok tau fin?” tanya saya.

“Iya, aku kan juga pernah ketipu bapak itu, tau nggak uangnya dibuat apa? Dulu pernah aku buntutin, ternyata dia pake makan sama beli rokok di warung.”

Oh May God. Jadi ini ceritanya saya benar-benar tertipu? Butuh beberapa waktu untuk meyakinkan diri kalau saya benar-benar telah tertipu. Kecewa banget sebenarnya, tapi akhirnya saya ambil sisi positifnya. Siapa tau waktu itu bapak tua itu memang sedang kelaparan sampai gemetar. Karena nggak dapat uang, dia jadi terpaksa menipu orang. Wallahua’lam. Ya sudahlah, sudah terjadi mau diapakan lagi?

Beberapa bulan kemudian, tak disangka-sangka saya bertemu bapak itu lagi. Dia dan becaknya sedang berdiri di depan sekolah. Matanya lirik sana sini, memperhatikan anak-anak yang baru saja keluar dari pintu gerbang. Ketika saya berdiri di hadapannya, bapak itu berkata.

“Becak?”

Saya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ah, bapak tua itu, mungkin sudah lupa kalau dulu pernah nipu saya. Haha

“Kerja yang rajin ya Pak, jangan nipu-nipu lagi. Tega banget sih sama anak sekolahan…” kata saya dalam hati. Lalu saya pergi membiarkannya sibuk menangkap mangsa.:mrgreen:

2 pemikiran pada “Pertama Kali Tertipu

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s