Tiga Tancak, Empat Insiden

*Dibuat dengan santai untuk dibaca dengan santai:mrgreen:

IMG-20150803-WA0037

Minggu, 2 Agustus 2015 jam 12 siang seharusnya adalah jadwal saya untuk menepati sebuah “janji” pada seorang sahabat. Kemudian siangnya, sekitar jam 14.00-16.00 WIB, seharusnya adalah jadwal saya “kondangan” ke pernikahan seorang sahabat lainnya. Tapi semua jadwal itu acak-adul gara-gara si “Dodik”! He? Siapa Dodik? Entahlah, saya juga tidak tau siapa sebenarnya si Dodik ini. Tapi yang jelas (jelas nggak sih sebenernya?), gara-gara dia semua perjalanan ini bermula dan semua insiden di dalamnya terjadi.

Dodik, entah siapa Dodik. Mungkin kalau dia ikut, semua insiden ini tidak akan terjadi (bisa jadi). Malam itu, 1 Agustus 2015, sekitar jam 11.30 dini hari. Seorang teman rajuters, Mbk Lina namanya, mengirim pesan kepada saya. Isinya, meminta saya untuk membawa banner “Komunitas Rajut Bondowoso” untuk perjalanan besok. Rupanya Mbak Lina nggak tau, kalau saya tidak bisa ikut dalam perjalanan besok. Alasannya ya karena jadwal yang sudah saya sebutkan di atas.

Mulai dari sini, terjadilah penghasutan itu.  Saya yang awalnya keukeuh (mencoba keukeuh lebih tepatnya) tidak mau ikut dalam perjalanan itu akhirnya berubah pikiran. Tepat jam 00.00 saya memutuskan untuk ikut dalam perjalanan esok hari dan merubah jadwal yang telah tersusun rapi. Malam itu saya segera mengirim pesan pada sahabat, untuk mengundur jadwal janjian sekitar jam 3 sore. Perkiraan pulang dari perjalanan besok sekitar jam 2 siang, paling lambat jam 3 sore. Sepulang dari perjalanan saya akan numpang mandi  dan ganti baju di rumah salah satu rajuters dan langsung berangkat ke resepsi pernikahan. Janjian dengan sahabat lainnya akan ditepati setelah memenuhi undangan pernikahan. Well, begitulah rencananya.

Keesokan harinya, jam 06.45 saya berangkat dari rumah. Sempat kembali setelah meninggalkan rumah sekitar 500m karena banner “komunitas rajut” yang sangat berharga ketinggalan. Padahal itu yang menjadi alasan saya ikut perjalanan ini. Bodoh banget kalau sampai benda ini benar-benar tertinggal.

Saya sampai di rumah salah satu Tim Jelajah Bondowoso (Jbond) Mas Agung, jam 08.00 WIB setelah menjemput salah satu rajuter Bondowoso yaitu Mbak Anggen. Beberapa teman yang sudah berkumpul di rumah Mas Agung, yaitu Mbak Lina, Dian, Mas Adli, Mas Arvil, Opik, Friska, Dedek dan Mbak Rici. Rencananya yang akan ikut dalam perjalanan ini ada 13 orang. Jadi masih ada dua orang lagi yang belum datang. Mereka adalah Mbak Friska (Jadi, ada double friska dalam perjalanan ini) dan Mbak Fani.

Kami menyepakati pasangan masing-masing. Saya dengan Mbak Anggen, Mas Agung dengan Mbak Lina, Mas Arvil dengan Mbak Friska, Mas Adli dengan Friska, Opik dengan Dian, Mbak Rici dengan Dedek dan Mbak Vani Sendiri. Fix, perjalanan dimulai!

Ada tiga destinasi yang akan kami kunjungi, yaitu Tancak Jomblo, Tancak Kembar dan Tancak Si Macan. Nama Tancak Kembar mungkin sudah tidak asing lagi di telinga orang Bondowoso, tapi mungkin nama Tancak Jomblo dan Tancak Si Macan masih jarang terdengar ya? Nama-nama itu memang tidak eksis sebelumnya. Nama tancak Jomblo dan Tancak Si Macan diberikan oleh Tim Jelajah Bondowoso karena tancak atau air terjun ini sebelumnya tidak bernama.

“Pal Sembilan”, itu adalah tujuan pertama kami. Pal Sembilan adalah nama pintu gerbang menuju Tancak Kembar. Sekitar 15 menit perjalanan dari rumah Mas Agung. Oke, seperti biasa, di sini saya tidak akan menyesatkan kalian dengan menjelaskan nama jalan atau desa yang saya lewati. Kalau masalah detail petunjuk jalan, lebih baik kalian mengunjungi artikel Jelajah Bondowoso tentang Tancak Kembar dan Tancak Si Macan, di artikel tersebut sudah dijelaskan dengan lengkap.

Dari pal sembilan, kami mulai menyusuri jalan desa. Boleh dibilang jalan yang saya lalui menuju Tancak Kembar ini adalah jalan yang penuh kejutan. Jalannya sempit, tiba-tiba berkelok tajam dan tiba-tiba menanjak. Kolaborasi antara belokan tajam dan tanjakan inilah yang menyebabkan “insiden pertama” terjadi. Ya, insiden pertama terjadi pada saya. Si Vega keluaran tahun 2008 yang saya kendarai, tumbang di belokan tajam yang tiba-tiba menanjak. Kaca spion sebelah kanan dan besi penyangga kaki sebelah kiri bagian atas patah, serta beberapa lecet memanjang di sayap kiri. Beruntung saya dan Mbak Anggen tidak terluka.

IMG-20150803-WA0008

TKP “Insiden Pertama”

Menurut penjelasan Opik, penyebab insiden itu adalah karena saya salah memilih jalur. Karena tikungannya ke arah kiri, harusnya saya memilih jalur sebelah kanan (sisi kanan jalan) agar kuat menghadapi belokan tajam yang menanjak. Berlaku sebaliknya untuk tikungan tajam dan menanjak ke arah kanan. Untuk motor gede hal ini tidak masalah, mau pilih jalur kanan atau jalur kiri tetap aman. Lain halnya dengan motor bebek biasa seperti si Vega. Kalau salah pilih jalur, beginilah akibatnya. Motor tidak kuat menanjak, mundur, tidak seimbang dan  akhirnya jatuh.

IMG-20150803-WA0009

Masih di Perkampungan

Meski dengan satu kaca spion di sebelah kiri, saya tetap melanjutkan perjalanan. Teman-teman lain tetap setia menemani saya melewati perjalanan ini. Semakin jauh, medan yang dilewati semakin tidak mudah. Jalan sempit berbatu, berkelok, menanjak dan lembah mengaga di sebelah kiri, harus kita lewati. Sekedar intermezo, 10 tahun yang lalu, jalan ini saya lewati dengan berjalan kaki, bukan dengan motor.

IMG-20150803-WA0007

Menuju Tancak Kembar

Meski sedikit mengerikan, tapi pemandangan yang disuguhkan begitu indah. Bukit-bukit hijau menjulang dengan sawah bersusun, dan langit biru yang cerah menjadi latarnya, sungguh memanjakan mata. Sayang, tidak bisa mengambil gambar karena saya harus konsentrasi menyetir dan Mbak Anggen harus konsentrasi membaca doa.

Well, akhirnya… setelah satu jam perjalanan, kita sampai di destinasi pertama. Tancak Jomblo. Meski alirannya kecil, tapi kita tetap bahagia bertemu dengan tancak yang satu ini. Karena ini menandakan tancak Kembar sudah semakin dekat. Kami berhenti sejenak di sini untuk istirahat dan berfoto ria.

IMG-20150806-WA0030

Istirahat

IMG-20150806-WA0031

Bear menikmati Tancak Jomblo

IMG-20150802-WA0005

Banner Komunitas Rajut Bondowoso

Saya memang sengaja tidak membawa kamera digital karena memory card-nya hilang secara misterius. Opik yang saya andalkan dalam hal potret memotret, ternyata juga tidak membawa kamera karena batrainya habis. Ya sudahlaaahh…. Akhirnya kita mengandalkan kamera handphone saja.

IMG-20150803-WA0013

“Insiden Dua” Irina Ngambek

Kami bermaksud meninggalkan Tancak Jomblo ketika insiden yang ke dua ini terjadi. Tancak Jomblo, ternyata tidak mau ditinggal begitu saja. Terutama oleh rekan sesama jomblonya :mrgreen: . Motor Jomblowan Opik, si Irina, ngambek. Irina nggak mau hidup ketika kontak di On. Opik mecoba menelusuri penyebabnya. Ternyata diketahui bahwa kaki elco yang berhubungan dengan kotak accu patah karena berkarat. Akhirnya, dibantu oleh teman-teman lain dan dengan peralatan seadanya, si Irina mendapat pertolongan. Cukup lama si irina diutak-utik, hingga akhirnya dia mau hidup kembali.

Di sisi lain, beberapa meter dari Irina, jomblowan lain juga sedang mengalami kesulitan. Sendal jepit yang dipakainya putus. Baiklah, setelah melalui  diskusi yang alot antara batin dan pikiran saya, akhirnya saya tetapkan kejadian ini sebagai insiden ke-tiga. Berkat sebuah jarum pentul, akhirnya sendal itu bisa disambung sementara.

Semua Fix! Perjalanan dilanjutkan!

IMG-20150806-WA0032

Let’s Go!

Jalan yang kami lalui masih sama. Berbatu, berkelok, dan menanjak. Sekitar 10 menit kemudian, sampailah kami di daerah yang memiliki tanah yang agak luas . Kami harus meninggalkan motor di sini dan mulai  berjalan kaki. Dua anak sungai yang kami seberangi, mengantarkan kami pada destinasi yang ke dua. Tancak Kembar.

IMG-20150803-WA0035

Emak Emak Rajut Ngerumpi

IMG-20150803-WA0036

we need tongsis!

IMG-20150803-WA0038

Tancak Kembar

IMG-20150806-WA0013

Groufie tanpa tongsis😀

IMG-20150806-WA0028

Ajumaaa.. Sang Fotografer

IMG-20150806-WA0010

Makan Bersama

Puas menikmati Tancak Kembar, kami melanjutkan penjalanan ke destinasi terakhir. Tancak Si Macan. Untuk itu kami harus kembali menyusuri jalan berbatu, berkelok dan (sebaliknya) menurun. Kami kembali menuju pertigaan pertama yang kami temui di awal perjalanan. Dari pertigaan ini kami belok kiri. Memilih jalan yang tidak kami pilih sebelumnya. (tolong jangan bingung😛 )

IMG-20150806-WA0008

Sholat Dhuhur Sebelum Menuju Tancak Si Macan

IMG-20150806-WA0009

Kenalan dengan Sendal “Biru” Baru:mrgreen:

Mas Agung bilang, perjalanan kali ini tidak sesulit jalan menuju Tancak Kembar. Kita hanya perlu menitipkan motor di rumah warga, kemudian berjalan kaki sebentar menuju Tancak si Macan. Okey, kedengarannya mudah. Tapi dalam sebuah perjalanan apa pun bisa terjadi.

Sesampainya di rumah warga, kita berbincang-bincang sejenak dengan si empunya rumah tentang arah perjalanan ke Tancak Si Macan. Ibu paruhbaya itu menjelaskan kalau ada dua alternatif jalan untuk sampai ke sana. Pertama, lewat jalan raya, dan yang ke dua, dari arah rumah warga terus lurus melewati kebun dan sawah. Ibu itu bilang, lebih dekat melewati jalan yang ke dua. Mas Agung dan kawan-kawan, dalam perjalanan sebelumnya berangkat melewati jalan yang pertama dan pulang melewati jalan yang ke dua. Kami sedikit kebingungan mau berangkat lewat jalan yang mana. Akhirnya, kami putuskan untuk mengikuti saran warga yaitu berangkat melewati jalan yang ke dua.

IMG-20150806-WA0011

Perjalanan Menuju Tancak Si Macan

Meski tidak yakin ini jalan yang benar, kami teruskan saja perjalanan. Perjalanan terasa ringan karena medan yang kami lewati menurun. Tak lama berjalan, kami menemukan aliran air yang terus mengalir jauh ke bawah, seperti air terjun. Jadi boleh dibilang, posisi kami sekarang ini ada di atas air terjun tersebut.  Karena tak yakin kalau itu adalah air terjun yang kami tuju, akhirnya kami meneruskan perjalanan. Setelah jauh berjalan, akhirnya kami sadar, bahwa air terjun yang kami lewati itu benar Tancak Si Macan. Musim kemarau membuat alirannya menjadi kecil. Tidak sama seperti pertama kali Mas Agung dan kawan-kawan mengunjunginya.

IMG-20150806-WA0022

Menyeberang Sungai

IMG-20150806-WA0021

Melewati Persawahan

Karena sudah terlewati, akhirnya kita lanjutkan saja perjalanan. Kami turun melewati persawahan. Sampai di sini kami terpisah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, saya, opik, Mbak Lina, Dian, Mbak Anggen, Mas Adli, Friska dan dedek. Kelompok ke dua ada Mas Agung, Mas Arvil, Mbak Rici, Mbak Fani, dan Mbak Friska. Entah karena miss komunikasi atau bagaimana, rombongan yang di pimpin Opik terus melanjutkan perjalanan kembali ke tancak si macan. Kami bermaksud melihat Tancak Si Macan dari bawah, sedangkan rombongan Mas Agung tertinggal di belakang. Tidak ada jalan khusus menuju air terjun ini. Kami mencari jalan sendiri, naik turun sawah. Hingga akhirnya sampailah kami di bawah Tancak Si Macan.

IMG-20150803-WA0023

Rombongan Opik

IMG-20150803-WA0022

Sampai di bawah Tancak Si Macan

Beberapa saat lamanya kami duduk beristirahat karena kelelahan. Matahari sudah lewat 65 derajat di atas kepala, meski begitu panas teriknya membuat kita kehausan. Jujur saja, kami sedikit kecewa karena aliran airnya tidak sama seperti saat musim hujan. Awalnya kami memutuskan untuk menunggu rombongan Mas Agung, tapi kami tidak yakin mereka akan menuju ke sini. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali lebih dulu.

IMG-20150806-WA0019

Rombongan Mas Agung di Sungai Dlubeng

IMG-20150806-WA0003

Menyeberangi Jembatan

Jalan pulang terasa sangat berat, karena perjalanan terus menanjak menaiki bukit. Dari atas bukit kami melihat rombongan Mas Agung sedang bermain di Sungai Delubeng. Ternyata benar dugaan kami, mereka tidak melanjutkan perjalanan menuju Tancak Si Macan. Kami bersaut-sautan, untuk memastikan posisi kami yang akan kembali ke rumah warga terlebih dahulu.

IMG-20150806-WA0001

Jalan Pulang

IMG-20150803-WA0010

Jangan salah fokus! Lihat pemandangan di belakang Dedek!😀

Dengan sisa tenaga yang ada, akhirnya kami sampai di rumah warga. Untuk beberapa saat lamanya kami istirahat sambil menunggu rombongan Mas Agung. Tak lama kemudian mereka muncul.

Hari sudah sore saat kami memutuskan untuk kembali pulang. Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Yang artinya adalah, rencana saya untuk menepati janji pada seorang teman tak bisa saya penuhi dan rencana  untuk menghadiri undangan pernikahan sudah tidak mungkin dilakukan. Akhirnya saya mencoba menghubungi sahabat yang akan saya temui jam 3 sore. Ternyata nomornya tidak aktif. Saat itu saya berpikir, apa sms saya semalam sudah dibaca? Kalau belum, pasti dia sudah menunggu saya dari jam 12 siang. Aaaaaahh…. Pikiran saya mulai tidak tenang!

Semua sudah di atas motor dan siap-siap meninggalkan lokasi saat insiden ke-empat terjadi. Mbak Rici, dengan motor matic-nya, jalan lebih dulu. Untuk keluar dari halaman rumah warga, kita perlu melewati jembatan kecil yang terbuat dari bambu yang di bawahnya mengalir selokan kecil selebar setengah meter. Saya berada tepat di belakang Mbak Rici ketika ia mulai melewati jembatan. Tiba-tiba dia mulai tidak seimbang. Kakinya mencoba untuk berpijak, tapi sayang tidak ada pijakan di atas jembatan. Akhirnya dia oleng ke arah kanan, motornya roboh dan Mabk Rici jatuh terperosok ke dalam selokan.

IMG-20150803-WA0003

Insiden ke-Empat

Kami semua kaget dan langsung berlari untuk membantu Mbak Rici. Ada yang mengangkat motornya, dan ada yang ramai-ramai mengangkat tubuh Mbak Rici dari kubangan air di selokan. Mbak Rici mengaduh kesakitan di bagian tangan kanan dan kaki kanannya hingga dia tidak bisa berdiri. Akhirnya Mbak Rici digotong menuju rumah warga terlebih dahulu.

Tangan kanan Mbak Rici terkilir, tidak bisa dianggat tinggi-tinggi, tidak bisa ditekuk ke atas dan ke bawah. Kami memutuskan untuk melakukan pertolongan pertama dengan menggunakan sarung sebagai penyangga bagian lengan yang terkilir. Untung saja ada sarung si Opik. Sebelumnya, tangan Mbak Rici sempat dipijat oleh seorang warga sehingga rasa sakitnya berkurang.

IMG_20150806_083659

Groufie di moment genting. Maafkan kami Mbak Rici *take A bow*

Akibat insiden ini, formasi bonceng membonceng jadi berubah. Mbk Rici yang awalnya menyetir, jadi dibonceng oleh Opik. Mbk Fani yang awalnya sendirian, jadi membawa motor mbak Rici. Motor Mbk Fani dikendarai oleh Mbak lina. Dedek yang awalnya dibonceng Mbk Rici jadi dibonceng oleh Mbk Lina dan Dian yang awalnya dibonceng Opik jadi di bonceng Mas Agung. Bismillah, kita pulang. Berharap tidak akan ada insiden selanjutnya.

Sekitar jam 5 sore, kami sampai di Bondowoso daerah kota. Rombongan langsung mengantarkan Mbak Rici menuju rumah mbk Fani di daerah Sekar Putih. Karena hari sudah mulai gelap, kita semua numpang solat asar dan sekalian menunggu magrib di sana.

Tik Tok, Tik Tok, Tik Tok

Pak bakwan lewat diwaktu yang tepat! Sembari menunggu magrib, kita mengisi perut yang lapar dengan makan bakwan. Sambil makan bakwan, saya dan dian merencanakan perjalanan selanjutnya setelah ini, yaitu “kondangan susulan”. Kebetulan Dian juga diundang ke acara pernikahan yang sama.

Saya dan Dian sepakat, setelah ini kita akan ke rumah Mas Agung terlebih dahulu untuk mengambil motor Dian yang dititipkan di sana, kemudian kita (Saya, Mbak Anggen, Mbak Lina dan Dian) meluncur ke rumah Mbak Anggen. Mbak Lina pulang terlebih dahulu dengan mengendarai motor Dian. Saya dan Dian numpang ganti baju dan berdandan. Nggak mandi??? Nggak sempeeeett…. Ini udah jam 7 malam!:mrgreen:

IMG-20150802-WA0000

Taraaaaa…. Siap ke kondangan!

Dengan terburu-buru saya membonceng dian menuju rumah si pengantin. Kami melewati gedung pernikahan tempat yang seharusnya kita datangi tadi siang. Gedung itu sedang dibersihkan. Kami benar-benar minta maaf karena tidak dapat datang tepat waktu.

Dari rumah si pengantin, saya langsung mengantarkan Dian ke rumah Mbak lina untuk mengambil motornya. Setelah itu, kami yang sudah kelelahan, langsung pulang ke rumah masing-masing.

Sampai dirumah sekitar jam 8 malam. Pikiran saya belum tenang karena sahabat yang saya jadwalkan untuk bertemu jam 12 siang tadi masih belum dapat dihubungi. Sebelum berganti pakaian, saya langsung pergi ke rumah neneknya yang kebetulan berjarak beberapa meter saja dari rumah saya. Saya meminta nomor yang bisa dihubungi.  Jam 20.30 WIB, akhirnya saya bisa berbicara dengan sahabat saya tersebut. Saya ceritakan panjang lebar kejadiannya dan saya  benar-benar minta maaf karena tidak dapat memenuhi janji. Belum selesai bercerita, pulsanya habis. Hadeeeehhh

Belum selesai sampai di situ permasalahannya. Ketika saya membuka pesan di Whatsapp ada seorang sahabat yang ngambek gara-gara tidak jadi kondangan bareng. Untuk masalah ini mungkin ada kesalah pahaman antara saya dan dia. Yang pasti saya benar-benar minta maaf untuk hari ini! Mohon dimaafkan.

Dodik! Entah siapa Dodik itu… tolong beritahu saya kalau kalian melihat hubungan yang signifikan antara semua kejadian ini dengan si Dodik! Siapa pun yang bernama dodik. Bertanggung jawablah!

*Maafkan ya Dodik. Hahaha

Yah, dalam sebuah perjalanan itu apa pun bisa terjadi. Hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan adalah satu paket perjalanan. Dua hal itu dapat kita rasakan salah satunya atau dua-duanya sekaligus. Tapi bukan itu yang terpenting dalam sebuah perjalanan. Yang terpenting adalah perjalanan itu sendiri. Bukan tentang saya, kamu atau kita, tapi tentang apa yang kita alami, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar,  apa yang kita bisa hadapi dan apa yang bisa kita petik sebagai pelajaran.  Disadari atau tidak, Perjalanan  mengantarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa.😀

IMG-20150806-WA0015

See You On Next Trip Gaeees!😀

4 pemikiran pada “Tiga Tancak, Empat Insiden

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s