Ekspedisi Ranu Kumbolo (I)

Malam itu, tanggal 21 Desember 2013, terlihat enam belas anak sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di sebuah kontrakan sederhana. Tas-tas ransel, matras, jas hujan, tenda, peralatan camping dan bahan makanan berserakan di ruang tengah. Ke enam belas anak tersebut dibagi menjadi empat kelompok agar mudah dalam menggkoordinasi barang bawaan. Saya termasuk salah satu anggota dari kelompok-kelompok tersebut.

Kami adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember angkatan 2009 yang sedang bersiap untuk melaksanakan ekspedisi ke Ranu Kumbolo besok pagi. Terinspirasi oleh keindahan danau alami yang berada di ketinggian 2400 Km di atas permukaan laut itu, kami bertekat untuk melakukan perjalanan terakhir sebelum hengkang dari kampus dan sebelum sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Malam itu, kami mempersiapkan segalanya sampai larut malam. Esok harinya, tanggal 22 Desember 2013, kami berkumpul kembali di tempat yang sama pada jam 06.00 WIB. Gerimis pagi itu mengantar kami meninggalkan kota Jember menuju kota pisang, Lumajang. Tak lupa sebelum berangkat kami berdoa bersama agar diberi kelancaran dan keselamatan selama perjalanan sampai pulang kembali ke kota perantauan.

Sekitar dua jam perjalanan, sampailah kami di kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Dari Senduro, kami masih harus menempuh perjalanan lagi ke Ranu Pani, kira-kira dua jam perjalanan. Kami melewati hutan, jalan berkelok dengan medan yang tidak mudah. Jalanan berbatu dan menanjak membuat motor kami susah melewatinya, sehingga saya dan teman lainnya yang menjadi penumpang, harus turun berjalan kaki sampai menemukan medan yang lumayan mulus. Yah, saat itu saya menyadari mengapa kami harus berpasang-pasangan dan mengapa perempuan tidak diijinkan menyetir.

IMG-20131225-WA0015Jalan kaki dulu…

Gerimis masih menemani kami, bahkan tanah longsor pun sempat menghadang sehingga beberapa dari kami ikut turun membantu menyingkirkan reruntuhan tanah.  Berkat bantuan teman-teman tersebut, longsor tidak lama-lama menahan perjalanan kami hingga akhirnya kami tiba dengan selamat di Ranu Pani yang merupakan titik awal perjalanan menuju Ranu Kumbolo.

IMG-20131225-WA0011(1)Longsor…

Yeah… Sekitar jam 11.30 WIB kami sampai di Ranu Pani! Di sini kami istirahat sejenak, mengisi perut yang kosong, sholat dan  selakigus ke loket untuk mendaftar pendakian.

CAM00891Ranu Pani

Tanpa kami sadari, hujan semakin deras dan kami harus segera berangkat. Sekitar jam 12.00 WIB Perjalanan dimulai! Dengan menggunakan mantel biru kami berangkat menembus hujan, jalanan becek dan licin tidak kami perdulikan. Beberapa kali terjatuh, beberapa kali break untuk menemani teman yang sakit, sakitnya pundak dan kaki, semua itu tidak mengurangi semangat kami untuk terus melanjutkan perjalanan. Ranu kumbolo, 10,5 di depan kami! Memang awalnya terasa berat hanya untuk mencapai pos 1, namun kemudian jarak pos-pos selanjutnya lebih pendek sehingga membuat perjalanan terasa lebih cepat.

Hujan tak henti-hentinya mengguyur jalur pendakian Mahameru. Dalam perjalanan beberapa teman jatuh sakit dan terkena hipotermia. Hal itu menyebabkan harus ada beberapa di antara kami yang sampai duluan untuk membangun tenda dan menyiapkan makanan karena hari mulai gelap. Akhirnya diputuskan lima orang untuk berangkat duluan, termasuk saya.

Beberapa kali saya terjatuh karena sepatu yang saya gunakan licin. Yah, itu kesalahan saya, teman-teman yang lain menggunakan sandal gunung, saya nyeleneh sendiri menggunakan sepatu olah raga biasa. Meskipun begitu, perjalanan kali ini lebih sedikit breaknya dan itu membuat semuanya lebih cepat dan mudah. Jujur saja, banyak istirahat malah membuat badan semakin lelah, apa lagi bila istirahatnya terlalu lama, karena hal itu membuat seakan-akan tubuh kita menyesuaikan diri lagi dari nol.

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya pos 4 mulai terlihat. Pos ini adalah pos terakhir, setelah itu kami harus melewati jalur menurun untuk menuju Ranu Kumbolo. Jalur menurun itu sangat curam dan licin, ditambah lagi suasana yang gelap, membuat kami cukup kerepotan. Hingga akhirnya  kami turun dengan cara meluncur seperti main perosotan secara bergantian.

Akhirnya, sampailah kami di Ranu Kumbolo! Saat itu hari sudah benar-benar gelap dan hawa dingin menusuk tulang. Baju dan sepatu yang basah kuyup membuat tubuh kami makin menggigil. Kami segera membangun dua tenda dan mempersiapkan segalanya untuk menyambut teman-teman. Syukurlah, beberapa jam kemudian teman-teman datang tanpa kekuarangan suatu apa pun, meski beberapa di antara mereka dalam keadaan sakit.

Malam itu, kami tidur setelah makan malam seadanya karena tubuh kami sudah lelah dan kedinginan. Hujan belum juga mau berhenti. Sleeping bag kami basah, jadi terpaksa kami tidur dengan hanya beralaskan matras. Dinginnya sungguh menyiksa. Terutama bagi saya yang hanya membawa dua jaket, dan sialnya salah satu jaket saya gunakan dalam perjalanan basah kuyup sehingga tidak dapat digunakan untuk tidur. Akhirnya terpaksa, saya hanya menggunakan kaos berlapis tiga ditambah satu jaket tebal. Kata teman-teman “macak dewo”, artinya “belagak dewa” atau versi panjangnya “lu pikir lu dewa tidur Cuma pake begituan? Ini dinginnya minus meen…” dan sungguh, malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur saking dinginnya. Next Ekspedisi Ranu Kumbolo (II)

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s