Buku dan Cerita Ayah

download

 

Buku, adalah kumpulan lembaran kertas berisikan baris-baris tulisan yang dapat membawa kita pergi ke dunia yang berbeda. Ya, tidak berlebihahan ketika saya mendefinisikan buku seperti itu. Lewat buku kita bisa tenggelam, terjatuh, menangis, tertawa, lelah, marah, jatuh cinta bahkan sakit hati. Lewat buku kita bisa pergi ke pasar yang ada di Roma, pekuburan yang berada di Thailand, rumah kumuh di India, atap gedung putih di Washington DC, lubang terdalam di Australia, atau bahkan tempat terjauh terpencil sampai tempat yang tidak nyata pun dapat kita kunjungi.

Β 

Awal mula saya mencintai buku itu karena Ayah. Beliau lah orang yang mengajarkan saya untuk mencintai buku. Ketika kecil, buku-buku itu ditaruh di mana saja tempat saya biasa bermain. Entah itu di meja, di lantai, di kursi, atau di kasur . Jadi, di mana pun saya berada saya akan menemukan buku dan selalu tertarik untuk membukanya, meski hanya sekedar melihat-lihat gambarnya saja. Hal itu menjadi kebiasaan, jadi tak heran jika diajak bepergian ke mana pun yang saya minta adalah buku.

Teringat cerita ayah tentang kebiasaannya membaca buku. Kata ayah, jangan coba-coba mengajaknya bicara kalau sedang membaca buku. Saking tenggelamnya dalam membaca, meskipun kamu teriak-teriak di deket kuping nggak bakal kedengeran. Cara yang paling ampuh menyadarkan ayah adalah dengan disiram air, dan itu sering dilakukan oleh mbah Uti (Ibu ayah). Hahaha… Sampai segitunya ya? Eh, tapi sepertinya kelakuan seperti itu nurun sedikit ke anaknya (itu saya). Hihi

Saya suka mendengar cerita-cerita ayah tentang kegemarannya membaca buku. Ya, ayah memang suka membaca buku sejak muda. Pernah saya tanya “Ayah kok bisa sih baca buku 500 halaman Cuma dalam 1-2 hari?” itu lama bagi saya, karena saya bacanya leletπŸ˜› .

Ayah bilang “Itu karena latihan, sering membaca…”. Dulu kata ayah, ia dan teman-temannya patungan untuk menyewa dua karung buku. Dua karung bayangkan! Karena waktu yang dimiliki terbatas, maka setiap orang harus selesai membaca dalam waktu satu minggu. Jaman dulu, penerangan yang dipakai Cuma lampu templek. Jadi kadang kalau sudah kebanyak membaca sampai pagi, pandangan sampai buram, nggak bisa mengenali wajah orang.

Ayah tidak terlahir dalam keluarga yang kaya raya, namun keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan kegemaran ayah untuk membaca dan mencari ilmu. Kata ayah, dulu waktu sekolah ayah sama sekali tidak memiliki buku paket karena tidak mampu untuk membelinya. Beruntung, ayah berteman dengan seorang tionghoa yang lumayan kaya dan selalu membeli buku paket terbaru dan terlengkap. Situasi itu dimanfaatkan oleh ayah, saat si tionghoa sedang bermain, ayah saya meminjam bukunya untuk dibaca. Begitu seterusnya sampai-sampai si peminjam bukulah yang jadi juara kelas.πŸ˜€

Kegemaran ayah membaca tidak hilang sampai saat ini. Terbukti dengan kebiasaan ayah yang selalu membaca habis buku yang saya bawa sebelum saya menyentuhnya. Ya, kebiasaan ini sudah berlangsung sejak saya sekolah. Untuk hal ini, bisa jadi ada alasan lain selain kecintaan ayah pada buku, yaitu untuk mengontrol buku bacaan anaknya.

Ada cerita tentang kebiasaan ayah yang satu ini. Suatu ketika, pernah saya dipinjami buku oleh seorang teman. Tiba-tiba buku-buku itu menghilang dari kamar sebelum sempat saya sentuh. Ternyata sudah ada di tangan ayah dan sudah selesai dibaca. Beliau bilang. “Ini buku nggak pantes dibaca anak seusia kamu… Kembalikan sama yang punya! Kalau perlu ayah yang mau mengembalikan sendiri“Begitu katanya. Ternyata buku itu mengandung unsur pornografi dan SARA. Ya mana saya tau, kan asal pinjem. Tapi beruntung saya tidak sempat membacanya.

Mengingat semua cerita itu, saya jadi bersyukur memiliki ayah yang senang membaca. Suatu saat saya juga akan menularkan kebiasaan membaca ini pada anak-anak saya (cari bapaknya dulu!πŸ˜› ) . Agar mereka juga bisa merasakan indahnya padang lavender di negeri Belanda, mendengar deru air terjun Niagara, merasakan dinginnya puncak Himalaya, menunggang kuda putih di padang pasir Sahara, sampai menyentuh lembutnya salju di negeri Sakura.πŸ˜€

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s