Guru “Bukan Lagi” Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

20120611_kafa

Foto by Indonesiajuara.com

Agak pedes ya judulnya:mrgreen: . Artikel ini sebenarnya ingin saya tulis bertepatan dengan hari guru nasional tanggal 25 November 2015 minggu lalu. Tapi karena moodnya baru muncul hari ini, jadi ya baru sekarang bisa saya posting.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan guru atau apa pun ya, itu nggak mungkin banget karena ayah dan ibu saya adalah guru. Saya mengulas tulisan ini berdasarkan fenomena perubahan perilaku dan gaya hidup guru dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraannya.

Pertama-tama, mari kita ingat-ingat sosok guru jaman dulu saat saya dan teman-teman masih kecil. Sekitar tahun 90an lah. Yang terbayang pasti seseorang yang berwibawa, dihormati, disegani dan yang paling khas adalah “Sederhana”. Pasti terbayang sosok guru yang menaiki sepeda ontel, dengan dandanan yang apa adanya, penuh pengabdian dan selalu bersahaja dan menjadi panutan.

Dulu, setiap orang yang memiliki cita-cita menjadi orang kaya tidak mungkin mau menjadi guru. Setiap orang yang menjadi guru selalu dianggap orang yang penuh pengabdian dan rela hidup sederhana. Guru jaman itu adalah “Pahlawan tanpa tanda jasa”.

Well, coba sekarang kita bayangkan guru pada jaman ini. Sudah tak tampak lagi di mata, guru yang menggunakan sepeda ontel. Guru punya mobil? Sudah banyak. Bahkan ada seorang guru wanita yang ke sekolah menggunakan motor gede. Guru berdandan menor dengan pakaian mahal, sudah banyak lalu lalang melintang, terlentang (apa aja deh). Itu semua terjadi karena sekarang “Guru Bukan Lagi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. “Sertifikasilah” penyebabnya. Guru sudah dihargai jasanya.

Pertanyaannya adalah, apakah peningkatan kesejahteraan guru ini sejalan dengan peningkatan kualitasnya? Saya tidak tau pasti. Tapi yang jelas, menjadi guru sekarang adalah impian banyak orang. Bukan karena ingin mengabdi seperti jaman dulu, tapi karena ingin dapat “sertifikasi” dan hidup sejahtera. Jadi, kalau niatnya sudah demikian, kita semua sudah bisa menebak bagaimana kualitas guru generasi sekarang dengan guru generasi lampau.

Meski mungkin tidak semuanya seperti itu, masih ada orang-orang yang rela mengajar dengan niat yang tulus. Seperti mereka yang rela mengajar di tempat-tempat terpencil, terisolir dan terbelakang di Indonesia. Saya rasa masih ada orang-orang yang memiliki jiwa guru sejati.

Secara pribadi, dampak sertifikasi ini sangat saya rasakan karena ayah dan ibu saya adalah guru. Keluarga kami yang dulunya sederhana jadi lebih berkelas. Sebelum sertifikasi, motor bebek keluaran jadul adalah kendaraan sehari-hari ayah saya. Kalau mau pergi kemana-mana kami sekeluarga selalu berboncengan. Motor bebek kecil itu penuh sesak dengan urutan, saya di depan, ayah sebagai sopir, adek saya di tengah dan ibu di belakang. Kami tidak pernah membeli motor atas nama sendiri alias selalu beli bekas. Kalau bukan karena bertani dan berdagang, keluarga kami tidak mungkin bisa membangun rumah sendiri. Bisa jadi kita akan tinggal di perumahan sempit selamanya.

Sebelum sertifikasi, keluarga saya begitu tenang, aman damai tenteram. Keluarga kami disibukkan dengan kegiatan sehari-hari seperti memasak, mengurus rumah, berlibur bersama ke rumah saudara, dan lain sebagainya.

Sekarang, sertifikasi telah memberikan perubahan yang nyata. Dari segi materi, ia mengubah keluarga kami menjadi keluarga yang tidak bisa dibilang sederhana. Kami punya motor atas nama sendiri, mau beli ini itu lebih mudah, bahkan kami punya mobil yang dulu kami bilang Cuma punya orang kaya.

Dari segi ketentraman keluarga, sertifikasi mengubah ayah dan ibu yang dulunya sibuk dengan urusan keluarga, menjadi sibuk dengan urusan persyaratan dan berkas-berkas. Sibuknya seperti pengusaha. Kerja siang malam sampai begadang. Emosi tinggi karena stress.  Ah pokoknya begitulah…

Saya tidak bisa menilai sertifikasi ini baik atau buruk. Saya juga tidak bilang bahwa saya merasa sedih atau bahagia karena sertifikasi. Saya Cuma ingin menyampaikan perubahan-perubahan yang terjadi karena sertifikasi.

Terlepas dari itu semua, saya tetap bangga pada ayah dan ibu saya sebagai guru. Perjuangan mereka tidaklah mudah. Perjuangan mereka sebagai guru dimulai dari nol. Mulai dari penempatan di daerah tepencil dengan gaji kecil, rela berkorban harta demi murid-mudirnya. Menjadi panutan dan disegani hingga saat ini. Jiwa guru yang mereka miliki tidaklah luntur. Saya juga berdoa, semoga “Guru sebagai pahlawan” (dengan tanda jasa maupun tidak), generasi sekarang maupun yang akan datang, dapat melaksanakannya tugasnya dengan baik serta meningkatkan kualitasnya untuk mencerdaskan anak bangsa.

(meski telat banget) SELAMAT HARI GURU!😀

9 pemikiran pada “Guru “Bukan Lagi” Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

  1. Alhamdulilah profesi guru dihargai yaitu dengan sertifikadi tp pekerjaan guru itu unik karena guru menghadapi makhluk bernyawa tidak bisa bekerja seperti kuli,mereka perlu berkreasi dan belajar dan meningkatkan diri

    • yup setuju mbak… itu termasuk perbedaan antara guru dulu dan sekarang ya mbak, guru sekarang harus lebih kreatif karena zaman sudah berubah. Tapi semoga masih tetap dalam koridornya, tetap di hargai dan dihormati…🙂

  2. Eh nyoba komen lagi, cuman nulis ‘d’ dan ternyata gak error lagi hahaha.. Benar mbak, sekarang juga jadi dipertanyakan apakah kualitas guru masih sama dan fokus kepada ‘berbagi ilmu’ kepada anak didiknya daripada sekedar bekerja dan mengejar sertifikasi. Semoga masih banyak guru2 yang memang tulus mengajar ya.🙂 Nice sharing!

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s