Menjadi Wanita Seperti Ibu

ibu

Ketika melihat ibu, saya selalu bertanya “saya ini wanita model apa ya?”. Sepertinya saya nggak bisa menjadi sebaik ibu. Pagi-pagi sebelum berangkat kerja masih bisa mempersiapkan sarapan untuk anak-anak dan suaminya. Pulang kerja lanjut lagi di dapur untuk mempersiapkan makan malam. Setelah itu, bersih-bersih rumah dan lain sebagainya. Ketika malam tiba, ibu bersama ayah masih menyempatkan diri menjadi guru ngaji bagi beberapa anak murid di sekitar rumah. Selesai menjalani perannya menjadi guru ngaji, ibu mengerjakan pekerjaan kantornya, begitu seterusnya tanpa merasa lelah dan bosan. Selain beban kerja fisik, ibu juga masih memiliki beban mental saat anaknya nakal, atau saat berselisih paham dengan ayah. Ibu menghawatirkan anak-anak dan suaminya setiap waktu.

Yang paling saya kagumi dari ibu adalah, meskipun ibu bekerja, tapi tidak ada anggota keluarga yang kelaparan atau berniat untuk beli makan di luar. Ibu mampu membuat ayah selalu makan di rumah, meskipun sudah makan di luar bersama teman kerjanya atau dalam suatu acara, ayah pasti makan lagi di rumah.

Saya rasa saya tidak sanggup menjadi wanita seperti itu. Saya malah bercita-cita untuk tidak menjadi wanita karir, saya ingin benar-benar murni menjadi ibu rumah tangga yang selalu berada di rumah. Meski mungkin nantinya tidak benar-benar murni, karena saya juga masih memiliki beberapa cita-cita (prestasi) yang tidak harus saya capai dengan menjadi wanita karir. Namun kelihatannya keputusan itu nantinya akan menyecewakan orang tua yang memiliki harapan besar terhadap saya.

Setelah lulus nanti, saya bingung harus bagaimana. Sepertinya mau tidak mau saya harus bisa menjadi seperti ibu. Menjadi wanita seperti ibu itu kelihatannya benar-benar berat. Tapi mungkin ibu tidak pernah merasa begitu ya? Buktinya ibu tidak pernah bosan dan selalu iklas demi keluarga. Saya ini wanita model apa ya? Bisakah saya menjadi wanita seperti ibu? Entahlah…. Semoga bisa🙂

22 pemikiran pada “Menjadi Wanita Seperti Ibu

  1. Kehidupanmu menyenangkan masih bisa bersama, makan pun bersama. Saya jadi iri. Kalau saya, Sekarang saya diharuskan untuk belajar mandiri. Seorang ibu bagi saya, adalah orang tua yang amat menyayangi anaknya dan keluarganya.

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s