Jelajah Bondowoso ke Tancak Suco (Maesan)

Untitled_Panorama1

Liburan berasa sekelebat mata doang… Cepet banget! Andai bisa nambah seenak nambah kuah baso, pasti nggak ada puasnya. Tapi tetap harus disyukuri, karena libur yang “berasa” cepet ini kita  masih ada waktu untuk bisa kumpul keluarga besar, masih ada waktu untuk bisa jalan-jalan sama temen, dan masih ada waktu untuk bisa saling maaf memaafkan. Saya mengucapkan “Minal Aizin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Maafin segala kesalahan Anis Lotus ya gaes! Meski belum pernah bersua, mungkin ada kata-kata di tulisan saya yang tidak berkenan dihati para pembaca dan blogger sekalian. Semoga kita bisa bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan. Amiin

Eh, balik lagi ke liburan. Kemarin, tanggal 21 Juli 2015, Tim Jelajah Bondowoso melakukan perjalanan lagi. Kali ini destinasinya adalah Tancak Suco, yang terletak di desa Suco Kecamatan Maesan. Saya ikut dalam perjalanan ini bukan untuk membawa nama Komunitas Rajut jalan-jalan, tapi asli sebagai pengikut Tim Jelajah Bondowoso. Awalnya sempat ragu, karena khawatir akan bentrok dengan jadwal silaturahmi keluarga, maklum masih suasana lebaran. Syukurlah, kegiatan silaturahmi bisa diselesaikan tanggal 20 Juli, jadi saya bisa ikut. Sebenarnya tanggal 20 Juli pun ada acara jalan-jalan ke Kawah Wurung bersama teman-teman SMA, tapi ya apa boleh buat… pada akhirnya memang harus memilih.

Kita janjian di rumah salah satu Tim Jelajah Bondowoso (Jbond) jam 07.00 WIB. Pasti tau kan, jamnya Indonesia? Bilangnya jam tujuh, ngaretnya bisa 30 menit sampai satu jam. Jadi sebagai warga negara yang patuh budaya (jangan ditiru) saya berangkat dari rumah pukul tujuh sampai di tepat janjian pukul 07.30 WIB:mrgreen: . Sampai di tempat, kita masih menunggu salah seorang anggota Tim yang sampai detik saya menginjakkan kaki di halaman rumah salah satu Tim JBond, dia baru terbangun dari tidurnya. Haha

Beberapa menit kemudian, kita sudah siap berangkat. Fix yang ikut dalam perjalanan kali ini ada 15 orang.  Rombongan terpecah menjadi tiga. Rombongan pertama berangkat dari rumah Mas Agung, yaitu saya, Mas Arfil, Dedek, Cinda, Gun, Friska dan Mas Adli. Rombongan kedua adalah teman Friska yaitu Chandra dan Yudi. Rombongan ke tiga dari Jember ada Opik dan Pak Bayu beserta istri dan dua anaknya. Kami semua berkumpul di Maesan.

Perjalanan dimulai dari pasar Maesan. Kalau dari arah Bondowoso, setelah Indomart (Nggak ada maksud ngiklan) belok Kanan. Setelah itu jangan tanya nama-nama desa atau jalannya, karna saya ratunya kesasar. Haha. Jadi lebih baik saya arahkan kalian ke tulisan Tim Jelajah Bondowoso yang membahas lengkap tentang Tancak Suco atau Tancak Maesan ini. Kalau ingin tau rasanya jadi penumpang ya tetep baca tulisan ini sampai habis.😀

Perjalanan awal kami disuguhi dengan medan yang termasuk mulus, meski jalannya sempit. Cuma lubang kecil di sana sini yang tidak memberikan hambatan berarti. Lama kelamaan jalan mulus mulai hilang berganti dengan jalan berbatu. Benar-benar berbatu tak ada aspal mulus sedikitpun. Meski nggak ikutan nyetir, tapi saya tau gimana rasanya mengendarai motor di jalan berbatu. Perlu konsentrasi tinggi dan harus sabar menahan beban motor dan orang yang dibonceng. Apalagi di jalan menurun, dalam keadaan jalan berbatu rem yang cakram sangat dibutuhkan. Melorot ke arah depan biasanya tak terelakkan, jadi pengendara harus menahan beban orang yang yang diboncengnya.

Kurang lebih setelah 20 menit mengarungi jalan berbatu, kita mulai melewati jalan setapak di tengah-tengah kebun kopi robusta. Jalanan sesekali menanjak dan berkelok. Debu beterbangan, karena saat ini Bondowoso sedang musim kemarau, tak ada hujan. Syukurlah tidak diperparah dengan abu vulkanik Gunung Raung, karena ternyata abu Raung tidak sampai kecamatan Maesan.

Opik sebagai penunjuk jalan, menghentikan motornya di tengah-tengah kebun kopi, di bawah pohon besar (entah apa nama pohonnya). Dia bilang motornya harus diparkir di sini, selanjutnya kita harus berjalan kaki sekitar 25 menit untuk mencapai Tancak Suco. Sebenarnya  bisa saja motor terus lanjut sampai mendekati tancak, namun di sana tak ada tempat parkir yang lebar dan pohon kopi yang sangat pendek menyulitkan motor untuk masuk.

Dari sini kita mulai berjalan kaki. Rombongan keluarga Pak Bayu sudah berada di depan, sedangkan Mas Agung, Gun, Opik, chandra, Yudi dan Mas Adli masih tertinggal di belakang. Saya, Friska, Dedek dan Mas Arfil berjalan santai sembari menunggu rombongan yang tertinggal. Lagipula, penunjuk jalannya kan Opik. Tak lama kemudian si Opik muncul sendirian. Kami lalu melanjutkan perjalanan tanpa  menunggu rombongan yang tertinggal.

Baru berjalan beberapa menit ternyata kami bertemu dengan rombongan Pak Bayu yang sedang beristirahat. Chandra dan Yudi juga menyusul kami. Opik bilang, jalan terus saja sampai bertemu jembatan,lalu belok kanan. Akhirnya saya, keluarga Pak Bayu, dedek dan Cinda melanjutkan perjalanan. Opik, Friska, Chandra dan Yudi berjalan perlahan di belakang sambil menunggu rombongan tertinggal yang tak muncul-muncul.

Sampai di jembatan yang dimaksud  oleh Opik, kita kebingungan karena setelah jembatan tak ada jalan ke arah kanan. Akhirnya kita menunggu si penunjuk jalan lagi. Tiba-tiba segerombolan anak kecil datang sambil berlari-lari. Kelihatannya mereka penduduk lokal yang sudah biasa bermain ke Tancak Suco. Mereka berlari menuju jalan kecil ke arah kanan sebelum jembatan. Oh ternyata, ada jalan kecil dan sedikit menanjak di sana.IMG_4168

Kami melanjutkan perjalanan mengikuti gerombolan anak itu. Mas Arvil, Friska, chandra dan Yudi Muncul tak lama setelah kami mengambil jalan ke kanan. Saya kira Opik, Mas Agung, Mas Adli dan Gun pasti tak jauh di belakangnya. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, terlihatlah puncak Tancak yang kami cari-cari.

Akhirnya….. Tanpa membuang waktu, langsung deh kita Jeprat Jepret,  pose sana sini. Eh, tapi by the way, Mas Agung, Mas Adli dan Gun kok belum muncul ya batang hidungnya? Itu yang kami pikirkan setelah cukup lama kami mengambil gambar dan main air di Tancak Suco. Awalnya kami kira mereka pasti jalan pelan-pelan banget, sedikit-sedikit istirahat, makanya nyampenya lama. Tapi dipikir-pikir kok nggak wajar kalau sampai selama ini,mengingat jarak dari jembatan ke Tancak Suco nggak begitu jauh. Jangan-Jangan mereka kesasar

Opik mecoba memanggil-manggil nama mereka berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Akhirnya Opik memutuskan untuk menyusul. Cukup lama Opik pergi. Kami sesekali menengok ke arah kebun kopi siapa tau mereka muncul secara-tiba-tiba. Ada beberapa anak kecil yang datang langsung kami berondong pertanyaan “Lihat tiga orang jalan ke sini nggak?” Mereka bilang ada tiga orang di belakang, tapi nggak tahu jalan ke arah mana.

Tak lama setelah itu Opik muncul sendirian. Tak terlihat tanda-tanda tiga manusia serigala (eh ) itu muncul. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu saja di sana. Setelah lama menunggu, terdengar suara sahut-menyahut dari arah aliran sungai.

Oh My…. Bener kan mereka tersesat. Ternyata mereka berjalan terus melewati jembatan, nggak belok kanan. Mereka terus berjalan ke balik bukit dimana Tancak Suco mengalir. Lumayan lah, mendaki gunung lewati lembah plus ketemu lutung dan babi hutan…:mrgreen:

Usut punya usut, ternyata keterlambatan mereka disebabkan oleh “Gerakan Penyelamatan Helm”. Jadi mereka kembali lagi ke tempat parkir karena ada seorang petani kopi yang memperingatkan mereka untuk membawa serta-helm-helmnya kalau tidak mau pulang tanpa helm. Karena itulah mereka jadi kehilangan jejak kita. Wah, ternyata…. Thanks Vroohhh

P1150028

Makan bersama setelah lama menunggu rombongan yang tersesat

1

Amazing Tree

2

Wefie😀

3

Nggak lupa dong, sama maskot Jelajah Bondowoso.

11012828_10204724529288924_5759789528795776214_o

Tree Hole Frame

WP_20150721_11_46_30_Pro[1]

The Way Home

WP_20150721_11_40_21_Pro[1]

Bahasa Indonesianya Pulang

WP_20150721_11_49_43_Pro[1]

Menunggu petani selesai mengangkut kopi Robusta

Terimakasih Jelajah Bondowoso. Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya😀 .

9 pemikiran pada “Jelajah Bondowoso ke Tancak Suco (Maesan)

  1. Anaknya itu namanya Rani dan Naga.😀
    Jalan kakinya kurang jauuhh……., masih banyak cadangan lemak di pinggang sisa lebaran he he he….
    Masih ada ketupat dan opor yang nempel di pinggang kiri.😀

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s