Maaf

“Maaf” itu adalah kata yang sulit diucapkan untuk beberapa orang. Mungkin karena memang orang tersebut merasa benar, sehingga enggan untuk mengucapkan kata “Maaf”. Mungkin juga karena “gengsi” yang terlalu besar, sehingga kata “Maaf” serasa sangat sulit untuk diucapkan. Atau mungkin, memang lagi nggak mood aja bilang “Maaf”.

Saya pernah mengalami hal itu. Sulit mengucapkan kata “Maaf”. Tapi biasanya, seiring redanya amarah, kata maaf itu bisa muncul begitu saja, soalnya saya termasuk orang yang nggak betah lama-lama marahan.

Apa pun itu, yang jelas saat ini saya menganggap bahwa “Maaf” adalah kata yang ajaib. Bisa bikin berantakan hubungan kalau nggak ada dia. Kadang, meskipun sudah diucapkan tetap saja tidak bisa membuat suatu hubungan baik kembali.  Butuh ketulusan dalam mengucapkannya. Terlalu sering diucapkan juga bikin nggak nyaman. Ribet yah?

Kenapa saya tiba-tiba ngomongin tentang “Maaf”? Karena baru-baru ini saya mendapatkan suatu pelajaran berharga.

Ada dua keluarga yang sudah tak saling sapa selama bertahun-tahun. padahal mereka ini saudara dan rumahnya pun bersebelahan. Nah loh, kok betah ya? Saya juga heran. Dari ceritanya (ceritanya saya pihak non blok), saya tidak bisa memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Mungkin dua-duanya salah, mungkin juga dua-duanya benar. Bertahun-tahun lamanya, saya pikir keduanya mungkin punya alasan kuat (dan benar) yang membuat mereka betah marahan seperti itu. Hari ini saya menyadari kemungkinan lain, bahwa salah satu dari mereka (entah yang mana) sepertinya merasa menjadi pihak yang bersalah. Tapi karena sudah terlanjur mengaku benar, akhirnya kemana-mana membicarakan tentang keburukan dan kesalahan pihak lain sehingga dirinya terlihat benar. Jadi, tidak adanya kata maaf yang tulus bukan karena mereka mempertahankan bahwa mereka benar, tapi karena mereka mempertahankan “gengsi”.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menyindir siapa pun, Cuma biar jadi pelajaran saja untuk kita. Kalau sebenarnya kata “Maaf” itu ajaib. Bukannya sok bijak, tapi kalau dipikir-pikir hidup itu cuma sekali, jadi mending mana? Mempertahankan gengsi atau hidup rukun bahagia?

Semoga kita tergolong orang-orang yang berlapang dada untuk memaafkan dan meninta maaf. Amiin.

Mumpung masih suasana lebaran nih, Minal Aizin Walfaizin yah, buat sahabat semua😀 . Saya memang tidak membuat postingan khusus untuk “Minta Maaf”, tapi saya menyadari kesalahan saya yang segudang. Mohon dimaafkan. Dari NOL lagi ya😀 .

17 pemikiran pada “Maaf

  1. semoga menjadi orang yang pemaaf dan mampu bisa meminta maaf dengan tulus, bukan krn terpaksa atau embel2 lain mis: supaya cepat kelar..

  2. Di dunia ini ada dua kalimat yang begitu sulit diucapkan, namun begitu indah jika itu dilakukan.
    ” Maaf ” dan ” Terima Kasih ”
    Kadang, kita terlalu takabur untuk sekedar mengucapkannya. Sepele, tapi bukan hal yang pantas disepelakan🙂

    Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal aidzin wal faizin.
    maaf lahir bathin ya mbak anis🙂

  3. Sulit mengucapkan maaf juga bisa terjadi karena memang nggak pernah diajari jadi nggak terbiasa ya, lingkungan sekitar sangat mempengaruhi dalam hal ini🙂

    Nol nol ya kalau begitu😀

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s