Tong Sampah

Sebenernya siang ini saya mau istirahat, tapi belok dulu ke meja makan lihat makanan yang tersedia. Ada sayur kenikir ditongseng dengan ikan teri, ada tahu dan tempe goreng tepung. Semuanya masih hangat, saya jadi tergoda untuk mencobanya. Memang kebiasaan saya itu suka incip-incip, semua dicobain tapi ngambilnya dikit-dikit. Ibu, ayah atau adek sering marah gara-gara saya suka ambil sesuatu (misalkan: roti gulung) separuh saja, sisanya saya tinggal begitu saja di piring. Mau dibuang sayang, mau dimakan udah nggak pengen, pengennya makan yang lain. Jadi saya pikir mending tinggal aja, siapa tau ada yang makan. Haha

Lagi asyik menikmati hidangan di meja makan, tiba-tiba teringat satu cerita, yang pada akhirnya bikin saya gatel pengen nulis. Jadi ceritanya gini, dulu waktu kuliah, saya suka makan bareng sama temen-temen kosan. Rata-rata temen kosan itu kalau makan pilih-pilih. Ada yang nggak mau sama masakan yang rasanya terlalu manis, ada yang anti kecambah, ada yang nggak suka kulit ayam, ada yang cepet merasa kenyang,ada yang nggak suka pedes dan lain sebagainya. Kalo kamu Nis? Emmhhh… Ada sih sebenernya yang nggak saya suka. Apa? Bunggus nasinya.:mrgreen:

Hampir semua makanan saya suka. Sulit menemukan makanan yang tidak saya suka. Dulu sih ada, kerang, karena munurut saya bau tanah. Tapi lama-lama suka juga. Haha

Lanjut ke cerita makan bareng yah, jadi kalau lagi makan bareng-bareng itu hampir setiap anak menyisakan makanan di pinggir bungkus nasinya. Kalau sudah begitu biasanya mereka mulai melelang makanan itu “Sopo arep kulit?!” artinya “Siapa mau kulit?”, ada juga yang bilang “Sopo arep kecambah?”“Sopo arep tempe? Tempene gak enak”, dan lain sebagainya. Rata-rata yang ditawari bilang “Emoh, sik akeh tek ku” (ga mau, masih banyak punyaku), atau “emoh wis kenyang”, tapi ada juga yang mau. Kalau sudah di lelang, dan nggak ada yang mau, barulah mereka menawarkan pada saya.  Kenapa? Karena saya pasti maunya. Hahaha

Kalau mereka punya makanan dan sudah nggak ada lagi yang sanggup memakannya, biasanya selalu saya yang dipanggil untuk menghabiskan. Kamar saya kan di lantai atas, jadi kalau manggil saya untuk menghabiskan makanan biasanya gini “teteh mau? Sini aku punya-punya” dan jawaban saya selalu “Mauuuuuu…”. Padahal entah makanan jenis apa yang ditawarkan.😀

Pernah suatu ketika saya dipanggil turun ke bawah. Ada salah seorang teman yang membeli makanan jepang namanya takoyaki. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau menghabiskannya. Semua bilang takoyaki itu nggak enak. Terus dipanggil lah saya, niatnya mungkin buat ngerjain saya karena dipikirnya takoyaki itu udah pasti nggak enak. Ketika itu, saya melihat takoyaki empat atau lima biji (lupa), dikelilingi teman-teman tanpa disentuh, saya ya biasa aja. Langsung saya tusuk dan saya masukkan ke dalam mulut sekaligus (karena bentuknya memang untuk sekali lahap) dan saya makan dengan gembira.

“Hiiii teteeeeh…” semua pada teriak, bahkan ada yang itu mangap-mangap saat saya memasukkan takoyaki ke dalam mulut. Saat proses mengunyah, mereka semua meringis.

“Enak tah teh?” katanya penasaran dan mulai mencoba lagi, siapa tau tadi indra perasanya salah. Tapi akhirnya takoyaki itu dimuntahkan lagi.:mrgreen:

“Teh, teeh (panggilan saya teteh)… Makanan apa sih yang kamu gak mau? Perutmu itu udah kaya tong sampah aja” begitu kalo teman-teman saya becanda. Ya saya cuek aja, yang penting dimakan. Kan sayang juga kalau makanan dibuang-buang.  Rejeki juga sih buat saya.😛

Banyak lagi cerita lainnya, inti ceritanya menunjukkan kalau lidah saya ini nggak peka sama makanan nggak enak. Teman-teman bilang, apa pun makanan yang masuk ke mulut saya itu terlihat enak. Jadi melihat saya makan itu mereka selalu bertanya-tanya “enak Teh?”. Mungkin karena saya makan dengan lahap dan sangat menikmati makanan ya? mungkin.

Saya selalu ingat kata-kata salah satu teman saya.

A:”Enak punya anak seperti teteh, makannya selalu lahap. Dikasih apa aja mau.”

B: “Jadi nggak repot kalau melihara teteh”

Me: Emang kuciing???

C: “Teteh itu tong sampah”

Me: wahahahahaha

Yah, begitulah. Tapi saya bersyukur menjadi tong sampah. Selalu enak makan dan nggak susah cari makanan. Berat badan juga nggak sampe obesitas. Paling poll 52, sekarang malah naik turun di angka 47 dan 48 Kg.

Pesan saya, Apa pun makannya, minumnya….. eh salah salah. Apa pun makanannya, yang penting tetap jaga kesehatan dengan olahraga teratur.😀

13 pemikiran pada “Tong Sampah

  1. Owalah.. ternyata selama ini aku salah panggil ya.. Harusnya panggil “teh Anis”. Hihi..

    Aku juga pemakan segala loh teh. Apa aja. Kecuali wortel yang ada di capcay. Ogah banget. Kalo wortel di masakan lain mah oke oke aja

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s