Batasan Berteman

Pic-Bolang

At Pantai Payangan – Jember

Siapa sih di dunia ini yang nggak punya teman? Pasti punya ya, baik teman di dunia nyata maupun di dunia maya. Kalau memang lagi nggak punya teman sekarang, minimal pernah lah punya teman. Bersama teman itu, kita pasti punya banyak cerita, baik suka maupun duka.

Berinteraksi dengan teman membuat kita belajar kreatif menghadapai pribadi yang berbeda. Mungkin ada teman yang pendiam, ada teman yang pemarah, ada yang suka seenaknya sendiri, mungkin juga ada teman yang masa bodo alias cuek abis, dan lain sebagainya. Seru kan bisa berinteraksi dengan mereka? Kita jadi belajar menerima, bukan selalu ingin diterima. Kita belajar menghargai dan menghormati orang lain, kita juga belajar mengatasi masalah melalui interaksi dengan mereka.

Seakrab-akrabnya berteman, dengan siapa saja baik laki-laki atau perempuan, kita tetap punya batasan-batasan yang perlu diperhatikan. Ini batasan-batasan yang selalu saya perhatikan saat berteman.

  • Tidak mengorek-ngorek masalah pribadinya. Jadi, jangan kepo dengan masalah pribadi orang lain. Saya selalu diam menunggu. Menunggu dia bicara sendiri masalah pribadinya. Prinsip saya, kalo mau cerita ya monggo, kalo engga ya ga usah cerita. Bagi saya, hal pertama yang harus ada untuk menceritakan masalah pribadi adalah “kepercayaan“. Kalau dia mau cerita, berarti kepercayaan itu ada, dan akan saya jaga kepercayaan itu sebaik-baiknya (Insya Allah). Biar dia sendiri yang memberikan kepercayaan, bukan kita yang menawarkan kepercayaan itu.
  • Ijin saat meminjam barang apa pun, dan tentunya dikembalikan. Kalau sudah terlalu akrab dengan seseorang, kadang kita suka meremehkan hal ini. Pinjam barang nggak ijin dan lupa dikembalikan. Padahal dalam agama, itu tidak diperbolehkan. Nah, dalam hal ini saya memang agak lalai. Semasa kuliah, saya suka nggak ijin kalau sudah keburu. Meski teman yang dipinjami udah pasti memberi ijin. Karena kebiasaan dengan teman-teman juga kali ya. Jadi kalau sudah keburu langsung ngomong sendiri “Rin, pinjem sandal bentar…” terus karena orangnya nggak ada jadi dijawab sendiri “Iya Nis, pake aja…”. Nanti kalau orangnya sudah pulang, baru bilang (kalau inget). Wah payah, jangan di tiru.
  • Berusaha netral. Terkadang, dalam suatu kelompok pertemanan, ada salah satu teman yang tidak disukai karena sikapnya yang buruk. Kalau sudah begitu, lebih baik kita jadi pihak netral. Jangan ikutan membenci. Kalau memang dia memiliki sikap buruk dan tidak bisa diubah, ya mau bagaimana lagi? tidak ada cara lain selain kita yang banyak maklum. Tidak semua orang bisa menjadi baik seperti yang kita inginkan, kan? Lagi pula kita tidak akan pernah tau, bahwa teman yang paling dibenci itu justu akan menjadi satu-satunya orang yang mengulurkan tangan saat kita terjatuh. Hal ini pernah saya alami.
  • Jangan berlebihan. Teman juga manusia, suatu saat juga bisa melakukan kesalahan. Jadi jangan terlalu berlebihan dalam menaruh kepercayaan, mendewakan kebaikannya seakan-akan dia tidak akan menghianatimu. Bukannya suuzon, tapi persiapkan diri saja untuk sesuatu yang buruk di masa depan. Tetap menjadi teman terbaik untuknya, tanpa berharap dia akan melakukan yang sama. Ini akan membantu meringankan rasa kecewa kita saat hal buruk itu terjadi.
  • Tetap jaga sikap terhadap teman lawan jenis. Saya memiliki cukup banyak teman laki-laki, akrab pula. Ini bukan berarti saya cewe gampangan lho ya. Mereka aja yang deket-deket😛  (becanda). Serius, saya deket sama mereka bukan karena hubungan percintaan, tapi persahabatan. Meski begitu saya nggak pernah deket-deket sok-sok akrab, apa lagi pegang-pegang, atau peluk-peluk (ih). Ya diem aja gitu duduk. Mereka juga menghormati saya, duduk  aja sambil cerita-cerita. Dari situ saya bisa lebih mengenal mereka. Kebetulan teman cowo saya beragam. Dari yang nakal sampai yang alim. Percayalah, kalau semua cowo itu suka cewe baik-baik. Cewe nggak baik Cuma buat mainan aja (kata mereka). Saya mungkin teman perempuan yang dianggap bukan perempuan. Kata mereka saya nggak gampang GR-an (kata lain dari nggak punya perasaan alias nggak sensitif) jadi mereka suka cerita, bahkan beberapa sering curhat. Meski kadang nggak bisa kasih solusi, saya diem aja menjadi pendengar yang baik (sambil manggut-manggut). Dari situ saya tau, kalau cowok itu sebenernya juga mahluk manja. Haha

Jadi intinya tetap jaga sikap terhadap teman lawan jenis. Kalau kamu pakai jilbab, tetap pakai jilbabmu saat bertemu dengan mereka. duduk juga dengan jarak yang wajar jangan dempet-dempetan. Bicara yang biasa aja, jangan genit.

Mungkin itu saja ya batasan-batasan dari pengalaman saya (yang saya ingat). Bisa jadi berbeda dengan teman-teman, tapi saya harap tulisan ini bisa bermanfaat.🙂

4 pemikiran pada “Batasan Berteman

  1. Hahaha, masalah izin saat meminjam barang, kayaknya itu sudah menjadi hal yang paling disepelekan dalam dunia pertemanan ( baca : akrab ), semisal di tempatku sekarang. Sudah kayak saudara sendiri. Alhamdulillahnya sih, kami sama-sama saling memegang prinsip, setelah pinjam dikembalikan ke tempatnya😀

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s