Tiga Tancak, Empat Insiden

*Dibuat dengan santai untuk dibaca dengan santai :mrgreen:

IMG-20150803-WA0037

Minggu, 2 Agustus 2015 jam 12 siang seharusnya adalah jadwal saya untuk menepati sebuah “janji” pada seorang sahabat. Kemudian siangnya, sekitar jam 14.00-16.00 WIB, seharusnya adalah jadwal saya “kondangan” ke pernikahan seorang sahabat lainnya. Tapi semua jadwal itu acak-adul gara-gara si “Dodik”! He? Siapa Dodik? Entahlah, saya juga tidak tau siapa sebenarnya si Dodik ini. Tapi yang jelas (jelas nggak sih sebenernya?), gara-gara dia semua perjalanan ini bermula dan semua insiden di dalamnya terjadi.

Dodik, entah siapa Dodik. Mungkin kalau dia ikut, semua insiden ini tidak akan terjadi (bisa jadi). Malam itu, 1 Agustus 2015, sekitar jam 11.30 dini hari. Seorang teman rajuters, Mbk Lina namanya, mengirim pesan kepada saya. Isinya, meminta saya untuk membawa banner “Komunitas Rajut Bondowoso” untuk perjalanan besok. Rupanya Mbak Lina nggak tau, kalau saya tidak bisa ikut dalam perjalanan besok. Alasannya ya karena jadwal yang sudah saya sebutkan di atas. Baca lebih lanjut

Penpal

“Hi..”

“How’re you doin?”

“Hi, I’m fine, thanks. How about you?”

“I’m verry well..”

“Where do you come from?”

“I’m from China, and you?”

“I’m form Indonesia”

……

Kira-kira seperti itu percakapan standar yang sering saya lakukan jaman dahulu kala. Eh, nggak jadul-jadul amat sih, jaman kuliah saya masih suka beginian. Waktu itu masih seneng banget cari temen yang berbeda kebangsaan. Selain untuk mengasah kemampuan barbahasa Inggris yang belepotan, ada harapan juga suatu saat saya bisa bertemu dan mengunjungi negaranya :mrgreen: .

Banyak hal menyenangkan saat berbicara dengan mereka. Seringnya, saya berteman dengan mereka yang ingin mengetahui dan belajar budaya dari berbagai negara. Jadi lewat pertemanan itu kami bisa cerita berbagai keunikan yang dimiliki negara masing-masing.

Penpal yang saya dapatkan, biasanya bukan dari chatting di YM atau di media chatting lainnya. saya sengaja mencari di situs-situs penpal. Saya juga sempat memasang profil di situs-situs itu. memperkenalkan diri, dan menerangkan maksud dan tujuan ingin berteman dengan negara lain.

Misalkan, di deskripsi diri kita tulis: Baca lebih lanjut

Hadiah Terunik

(Tulisan Semalam)

Tik tok tik tok tik tok… Jam menunjukkan pukul 11.36 WIB. Sudah hampir tengah malam tapi mata ini belum mau dibawa ke alam mimpi.

Sebenarnya sudah lelah, tapi mau gimana lagi…. Kerjaan yang belum terselesaikan bikin serba salah. Mau tidur kepikiran, mau dikerjakan juga sudah capek.

Untuk menghilangkan kesumpekkan, iseng saya buka folder film, berharap ada film yang belum ditonton. Meski sudah tau kalau nggak ada film yang belum saya tonton di situ. Sejak lulus kuliah, film-film yang saya punya sudah nggak up to date lagi. Gara-gara udah jauh sama yang biasa saya rampok filmnya. :mrgreen:

Biasanya selalu update, apalagi film animasi. Wah, bener-bener bisa fresh otak tuh kalo lagi stress atau sumpek…. Dan sepertinya saat ini saya memang lagi (sangat) butuh! Ah, You don’t know who… Kembalilah, penuhi folder filmku dengan film-film animasiiii! >,<

Kembali lagi ke folder film yang sudah out of date. Meski saya tau kalau udah nggak ada film yang belum saya tonton, saya tetap membukanya dan memang berniat untuk menontonnya kembali. Ketika sedang asyik memilih film apa yang mau ditonton ulang, ada sebuah folder dengan nama nyentrik menggoda tangan saya untuk membukanya. Nama foldernya “Hadiah dari You don’t know who”, Judul film yang ada di dalamnya adalah Detective Conan The Eleven Striker. CONAAAAN, I’m your BIG FAN, Jadilah nyata, please! #Absurd Baca lebih lanjut

Batasan Berteman

Pic-Bolang

At Pantai Payangan – Jember

Siapa sih di dunia ini yang nggak punya teman? Pasti punya ya, baik teman di dunia nyata maupun di dunia maya. Kalau memang lagi nggak punya teman sekarang, minimal pernah lah punya teman. Bersama teman itu, kita pasti punya banyak cerita, baik suka maupun duka.

Berinteraksi dengan teman membuat kita belajar kreatif menghadapai pribadi yang berbeda. Mungkin ada teman yang pendiam, ada teman yang pemarah, ada yang suka seenaknya sendiri, mungkin juga ada teman yang masa bodo alias cuek abis, dan lain sebagainya. Seru kan bisa berinteraksi dengan mereka? Kita jadi belajar menerima, bukan selalu ingin diterima. Kita belajar menghargai dan menghormati orang lain, kita juga belajar mengatasi masalah melalui interaksi dengan mereka.

Seakrab-akrabnya berteman, dengan siapa saja baik laki-laki atau perempuan, kita tetap punya batasan-batasan yang perlu diperhatikan. Ini batasan-batasan yang selalu saya perhatikan saat berteman. Baca lebih lanjut

Kangen Warga C59

Blok C No 59, adalah alamat kosan saya selama 4 tahun kuliah di kota orang. Saya sudah pernah cerita kan kalau di sini ada banyak makhluk gila. Ahaha

C59 adalah kosan yang terletak di ujung jalan blok C. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan beberapa kamar di dalamnya. Entah berapa jumlah kamarnya, saya lupa, yang pasti ada 22 kamar yang terisi saat saya kost di sana. Setiap kamar ditempati oleh satu orang saja, tidak ada yang satu kamar berdua. Hampir semua penghuni kosan ini adalah angkatan 2009, meski beda-beda jurusannya. Ada jurusan Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Ekonomi, Teknologi pertanian, Fakultas pertanian dan FKIP. Kebanyakan adalah anak Farmasi dan Kesehatan Masyarakat. Jadi kita akrab banget kaya sodara karena merasa teman satu perjuangan. Baca lebih lanjut

Ekspedisi Ranu Kumbolo (II)

23 Desember 2013, Ranu Kumbolo di pagi hari. Benar-benar indah dan menakjubkan. Mata kami dimanjakan dengan hijaunya perbukitan dan kilau jernihnya air danau. Wajah kami tersenyum lebar. Siksa semalam terbayar sudah dengan pemandangan menakjubkan ciptaan Ilahi… Subhanallah.

Untuk beberapa saat lamanya kami masih dapat menikmati ranu kumbolo dari sisi ini dengan tenang. Namun, tak lama kemudian hujan turun lagi, membuat kami harus kembali masuk tenda dan melakukan segala kegiatan di dalam tenda.

Rencananya kami akan pindah camp ke tempat lain, yaitu tepat di bawah “tanjakan cinta”. Hujan membuat kami harusĀ  menunggu hingga siang hari. Meski akhirnya hujan-hujanan juga karena hujan tak kunjung reda. Hujan terus turun hingga malam hari, beberapa tenda bocor dan kami kedinginan. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebersamaan kami di tempat yang kami impikan. Meski berlainan tenda, kami saling sahut menyahut, bercanda, bernyanyi, bercerita. Sungguh moment yang menyenangkan di tengah guyuran hujan dan udara dingin yang menusuk. Baca lebih lanjut

Ekspedisi Ranu Kumbolo (I)

Malam itu, tanggal 21 Desember 2013, terlihat enam belas anak sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di sebuah kontrakan sederhana. Tas-tas ransel, matras, jas hujan, tenda, peralatan camping dan bahan makanan berserakan di ruang tengah. Ke enam belas anak tersebut dibagi menjadi empat kelompok agar mudah dalam menggkoordinasi barang bawaan. Saya termasuk salah satu anggota dari kelompok-kelompok tersebut.

Kami adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember angkatan 2009 yang sedang bersiap untuk melaksanakan ekspedisi ke Ranu Kumbolo besok pagi. Terinspirasi oleh keindahan danau alami yang berada di ketinggian 2400 Km di atas permukaan laut itu, kami bertekat untuk melakukan perjalanan terakhir sebelum hengkang dari kampus dan sebelum sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Malam itu, kami mempersiapkan segalanya sampai larut malam. Esok harinya, tanggal 22 Desember 2013, kami berkumpul kembali di tempat yang sama pada jam 06.00 WIB. Gerimis pagi itu mengantar kami meninggalkan kota Jember menuju kota pisang, Lumajang. Tak lupa sebelum berangkat kami berdoa bersama agar diberi kelancaran dan keselamatan selama perjalanan sampai pulang kembali ke kota perantauan.

Sekitar dua jam perjalanan, sampailah kami di kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Dari Senduro, kami masih harus menempuh perjalanan lagi ke Ranu Pani, kira-kira dua jam perjalanan. Kami melewati hutan, jalan berkelok dengan medan yang tidak mudah. Jalanan berbatu dan menanjak membuat motor kami susah melewatinya, sehingga saya dan teman lainnya yang menjadi penumpang, harus turun berjalan kaki sampai menemukan medan yang lumayan mulus. Yah, saat itu saya menyadari mengapa kami harus berpasang-pasangan dan mengapa perempuan tidak diijinkan menyetir.

IMG-20131225-WA0015Jalan kaki dulu… Baca lebih lanjut