Meningkatkan Kepedulian Terhadap Penyebaran Virus HIV

025901200_1448876490-psychology.msu.edu

Foto: Liputan6.com

HIV adalah virus yang menyerang sistem imun tubuh manusia. Virus ini ditemukan pertama kali di Afrika pada akhir abad ke 19 atau awal abad ke 20. Hingga akhir 2014, ada sebanyak 36,9 juta penderita HIV AIDS yang tersebar di seluruh dunia. Jumlah orang yang terjangkit virus ini di Indonesia pada tahun 2015 adalah sebanyak 17.350 jiwa. Virus HIV banyak menyerah orang di usia produktif. Oleh karena itu, bila masalah ini tidak ditangani dengan serius, dampaknya akan sangat luas bagi kehidupan suatu negara.

Pertama kali saya merasa benar-benar terlibat dan terjun langsung dalam isu ini adalah ketika kampus saya tercinta, FKM Universitas Jember mengadakan kampanye turun ke jalan untuk memperingati Hari HIV AIDS sedunia. Pada saat itu kami serempak memakai baju merah, membawa lilin ( acaranya malam hari) sambil berteriak menyerukan “Jauhi virusnya bukan penderitanya!!”. Acara itu juga menghadirkan para ODHA (Orang dengan HIV AIDS) yang menyampaikan pengalaman dan juga ikut melakukan orasi untuk menghidari perilaku beresiko. Baca lebih lanjut

Iklan

Guru “Bukan Lagi” Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

20120611_kafa

Foto by Indonesiajuara.com

Agak pedes ya judulnya :mrgreen: . Artikel ini sebenarnya ingin saya tulis bertepatan dengan hari guru nasional tanggal 25 November 2015 minggu lalu. Tapi karena moodnya baru muncul hari ini, jadi ya baru sekarang bisa saya posting.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan guru atau apa pun ya, itu nggak mungkin banget karena ayah dan ibu saya adalah guru. Saya mengulas tulisan ini berdasarkan fenomena perubahan perilaku dan gaya hidup guru dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraannya.

Pertama-tama, mari kita ingat-ingat sosok guru jaman dulu saat saya dan teman-teman masih kecil. Sekitar tahun 90an lah. Yang terbayang pasti seseorang yang berwibawa, dihormati, disegani dan yang paling khas adalah “Sederhana”. Pasti terbayang sosok guru yang menaiki sepeda ontel, dengan dandanan yang apa adanya, penuh pengabdian dan selalu bersahaja dan menjadi panutan. Baca lebih lanjut