Antara Emak dan Tukang Wader

TEAda satu cerita di bulan Ramadhan yang menyentuh hati saya. Pemeran utama cerita ini adalah Emak saya sendiri. Emak, adalah tetangga sekaligus pengasuh saya waktu kecil dulu. Orangnya sederhana sekali. Keadaan ekonomi Emak memang kurang baik, apalagi setelah suaminya meninggal dunia. Dua anak laki-lakinya masih belum mapan, sehingga tidak bisa banyak membantu perekonomian Emak. Satu anak perempuannya sudah menikah dan tidak tinggal bersamanya lagi. Mengembala kambing dan menjual bubuk kopi racikan sendiri adalah pekerjaan utama Emak. Sesekali ia berkunjung ke rumah untuk membantu ibu mencuci piring atau memasak.

Emak memiliki satu televisi kecil tak berwarna. Beberapa bulan yang lalu, TV nya rusak dan ia berniat menjualnya pada orang lain. Tersebutlah seorang pedagang ikan wader yang sering lalu lalang keliling kampung saya. Dia menawar televisi emak dengan harga Rp 50.000,0. Emak pun setuju. Dibawalah TV kecil emak yang sering ngadat itu. Tukang ikan itu tidak dapat membayarnya secara langsung, katanya dia belum punya uang dan akan membayarnya dengan cara menicicil.

Beberapa bulan lamanya, ternyata tukang ikan itu tak kunjung membayar. Emak pun menagihnya, namun tukang ikan itu bilang belum punya uang. Lama kelamaan, tukang wader tak terlihat batang hidungnya, padahal biasanya ia berjualan di permukiman sekitar rumah Emak. Usut punya usut, ternyata tukang ikan wader itu sengaja tidak masuk permukiman rumah Emak karena takut di tagih oleh Emak dan malu karena belum bisa membayar.

Suatu hari, tetangga dekat Emak yang tahu masalah televisi itu memberi tahu Emak “Bu, itu di pinggir jalan ada tukang wader. Cepet Bu keburu ngilang lagi. Segera ditagih uang televisinya.”

Emak pun bergegas pergi menuju pinggir jalan untuk menemui tukang wader itu.

“Pak, mana uang televisinya. Katanya mau dibayar…” Emak memang selalu to do point kalau bicara, namun memang begitulah gaya Emak. Siapa pun tau, tak ada sidikitpun niat di hati Emak untuk menyakiti hati orang lain.

“Eh, iya Bu. Maaf, saya belum punya uang…” kata si Tukang Wader.

“Ya sudah, bayar pakai ikan wader saja kalau begitu. Kasih saya dua bungkus ikan wader.” begitu kata Emak. Mungkin karena Emak sudah bosan menagih dan tidak mau kucing-kucingan lagi dengan si tukang wader. Harga satu bungkus ikan wader Rp 5000,00. Jadi kalau dijumlahkan, totalnya adalah Rp 10.000,00. Jauh sekali bukan dengan harga televisi emak? Tapi tau enggak apa yang Tukang Wader bilang?

“Waduh Bu, saya bisa rugi kalau sampean ambil dua..”

Oh men…. Terus apa kata emak???

“Ya sudah, kasih saya satu bungkus saja Pak…”

Lunas??? Iya, LUNAS! Televisi yang awalnya seharga lima puluh ribu, menjadi lima ribu rupiah saja. Kalau ditanya, kok mau-maunya sih Mak, televisinya jadi seharga lima ribu rupiah? Apa jawaban Emak?

“Iya, nggak tega…”

Hellow, saya sebagai penonton nggak tau harus lebih nggak tega sama siapa, Tukang Wader atau Emak? Kejadian ini sungguh membuat saya berpikir dan melihat kembali ke dalam diri. Sanggupkah saya, melakukan hal yang sama bila berada di posisi Emak yang serba kekurangan? Emak, yang bahkan tidak mampu membeli es campur untuk buka puasa, mengiklaskan televisinya seharga lima puluh ribu rupiah menjadi lima ribu rupiah. Saya yakin, sisa uang yang harusnya dibayarkan bukanlah jumlah yang sedikit untuk Emak.

Ke-IKHLAS-an. Itulah yang saya pelajari dari cerita Emak ini. Semoga bermanfaat!😀

 

Sumbe Gambar: Emak, Tukang Ikan

3 pemikiran pada “Antara Emak dan Tukang Wader

  1. pelajaran banget ya nis.. sulit kalo jadi emak..disaat dia sulit memenuhi kebutuhan, tetapi dia masih ada rasa tega dan berusaha ikhlas dibayar dengan ga sepadan..mudah2an nanti si Emak dibayar sepadan oleh Allah SWT.. aamiin

Tinggalkan komentar, kritik dan saran mu di sini Sob... :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s