Romantis

Romantis itu….

Wanita mana yang nggak ingin diromantisin? Pasti pada berharap diromantisin sama belahan jiwa masing-masing ya. :D

Romantis nggak harus gombal sampe mulut berbusa kok, nggak usah lebay dan nggak perlu mewah. Romantis itu muncul dari ketulusan, bukan suatu hal yang dibuat-buat. Kasih bunga rumput ke pasangan aja sambil becanda, itu bisa jadi hal yang romantis. Nggak perlu pakai cincin mahal sambil baca puisi jiplakan dari internet.

Romantis dengan modal gitar dan suara fals juga bisa. Asalkan tulus, pasti bisa bikin sang belahan jiwa kelepek-kelepek deh, meski mungkin akhirnya dia bakal bilang, “besok-besok nyanyi nggak usah pake suara aja ya bang…” wkwkwk *becanda*

Jujur aja, romantis menurut saya itu, hal-hal yang sederhana seperti, makan sepiring berdua meski Cuma sama kerupuk, naik sepeda motor butut berdua sambil cerita hal-hal lucu, saling lempar senyuman dan candaan, perhatian, dan lain-lain. Jadi romantis itu kalau menurut saya, tercipta karena kita berhasil melewati keadaan sulit berdua. Romantis itu muncul dari ketulusan. Romantis itu nyampenya dari hati ke hati.

Cieee anis, kaya yang pernah di romantisin aja… Hahaha. (no comment) :D Baca lebih lanjut

Gangguan Pengungkapan Imajinasi

Teman, pernah nggak mengalami yang namanya gangguan pengungkapan imajinasi ke dalam tulisan? Istilah ini bikinan saya sendiri sih sebenernya (hehe). Jadi maksudnya gini, sebelumnya kamu bisa mengungkapkan apa yang ada di pikiran kamu ke dalam tulisan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Namun tiba-tiba karena suatu hal, itu tidak bisa lagi kamu lakukan. Seperti yang saya alami sekarang ini.

Sebelumnya, saya merasa bisa dengan mudah menuangkan apa yang ada di pikiran ke dalam tulisan, sehingga orang lain bisa paham dan merasakan apa yang saya rasakan (dilihat dari respon pembaca). Tapi, sekarang rasanya suliiiit sekali untuk melakukan itu. Saya jadi ribet sama masalah SPOK dan EYD, di dalam pikiran ini selalu muncul “pengkritik” yang bilang “Bener nggak sih kalimat ini?”, “Ini salah nih, harusnya pake kata itu, tanda baca ditaro sini..” dan bla bla bla bla….

Jujur saja, pengkritik dalam pikiran saya ini tidak membuat saya lebih baik. Hal ini membuat saya tertekan dan menjadi tidak bebas dalam mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran saya ke dalam tulisan. Tulisan saya menjadi kaku dan membosankan (itu yang saya rasakan). Saya jadi pusing sendiri kalo ingin menulis sesuatu, padahal cerita yang akan saya tulis itu bener-bener cerita seru yang ingin saya bagi. Baca lebih lanjut

Lebaran Sebentar Lagi!

Lebaran sebentar lagi, yang artinya Ramadhan akan segera berlalu. Ada rasa menyesal, sedih, seneng, takut, semua campur aduk jadi satu. Menyesal karena ternyata, Ramadhan ini pun tidak bisa memaksimalkan ibadah. Sedih, seakan tak ada lagi bulan yang se-suci dan se-penuh berkah seperti bulan Ramadhan. Seneng, karena mau lebaran (berharap salam tempel, bertemu banyak saudara, maap-maapan, dan mulai dari nol lagi) dan takut, takut tidak bisa bertemu dengan Ramadhan lagi. :(

Kalau Ramadhan berlalu, akan ada satu rindu yang hilang. Apa itu? Rindu adzan maghrib. Haha. Iya kan? Adzan maghrib yang biasanya ditunggu-tunggu jadi berasa biasa aja kalau bukan bulan Ramadhan. Mungkin untuk warga Bondowoso, bukan adzan magrib yang dirindukan, tapi suara sirine. Jadi, di Bondowoso ada suara sirine yang menandakan sudah boleh berbuka puasa, baru setelah itu azan magrib. Suara sirine itu sama fungsinya dengan bedug di masjid. Imsak pun pakai sirine, kalau suara sirine di radio-radio sudah berbunyi artinya kita harus mengentikan semua kegiatan makan dan minum.

Biasanya, hari pertama lebaran, berasa masih bulan puasa aja. Mau makan atau minum sesuatu, inget “eh kan puasa ya… Eh engga deng, udah lebaran.” beberapa menit kemudian langsung dilahap semua yang ada di atas meja. Haha. Beberapa hari di bulan Syawal pasti kita makan macem-macem makanan. Mau nggak mau biasanya iya, karena di setiap rumah yang kita kunjungi pasti disuguhi kue-kue dan minum-minuman. Tiap pulang silaturahmi, perut kekenyangan. Pengen puasa syawal, tapi godaannya… Masya Allah… Baca lebih lanjut

Hati-Hati di Jalan

Menjelang Ramadan sampai lebaran, suasana jalan raya memang semakin padat. Oleh karena itu kita harus selalu ekstra hati-hati. Memang sih, kalau udah waktunya dicabut nyawa ya dicabut aja, tapi sebelum itu kan kita harus melakukan ikhtiar untuk melindungi diri.

Saya banyak menemukan pengendara sepeda motor yang dengan PD nya ngebut-ngebutan nggak pake Helm. Mas, Mbak, itu tempurung kepala Cuma satu-satunya lho… Kalau pecah ngga bisa beli di toko mana pun! Kok ya PD amat gitu, ngebut-ngebutan dengan rambut berkibar-kibar. Kadang juga bawa anak kecil tapi ngebutnya minta ampun, sering ngerem mendadak atau belok tiba-tiba nggak kasih tanda. Ada juga yang dengan pedenya nyetir konsentrasinya sama Handphone yang dia pegang. Kayanya sih lagi SMS Tuhan, laporan kalau mau menghadap (ini twitt salah satu teman :mrgreen: ).

Sebagai pengendara motor, saya selalu memakai helm baik itu perjalanan jarak dekat atau jauh. Selain untuk melindungi tempurung kepala kita yang satu-satunya dan ga bisa dibeli di toko manapun, saya pakai helm untuk melindungi diri dari laki-laki pengoda (ahaha). Cowok kan mesti gitu, entah cewek cantik atau jelek, pokoknya “cewek” main di goda aja. Kalau pake helm masih aman, setidaknya yang mau godain intip-intip dulu, mbak-mbak apa ibu-ibu ya. Haha. Baca lebih lanjut

Degan dan Kelapa Muda

13436269281834245650Sore ini saya ditugaskan ibu untuk membungkusi es lilin kacang hijau di dapur. Ada adek saya juga di sana, sedang membersihkan ikan hasil tangkapannya ( habis mancing di sungai). Sambil membungkusi es lilin, iseng-iseng saya nyanyi salah satu lagu sunda. Kira-kira begini lagunya, Ehem Ehem…. “Es lilin mah cece, kalapa muda….” (hujan guntur badai gempa) :mrgreen:

Ibu saya yang lagi beres-beres dapur langsung nyeletuk “Tuh, kalau di jawa barat namanya kelapa muda, ngga ada yang namanya degan.” Ibu saya kebetulan orang Jawa Barat.

Adek saya juga ikutan nimbrung. Dia cerita pengalamannya bersama dengan tukang es waktu ke rumah tante di Depok. Kira-kira seperti ini percakapannya: Baca lebih lanjut