Yang Sulit Didefinisiakan

Pernah punya hal yang sulit di definisikan dengan kata-kata nggak? Misalkan, ada orang nanya “Bagian mana yang sakit?” padahal waktu itu kamu lagi sakit perut ditambah sakit gigi jadi ngomongnya cuma “uh uh uh” doang sambil salah nunjuk -ke dada- (red: sakitnya disinii…) . Atau mungkin, kamu ditanyain sama calon mertua “Gimana? Enak masakan tante?” kamu cuma bisa pasang senyum termanis sambil mengangguk pelan, soalnya rasanya itu nusantara banget (nano nano maksudnya) :razz: .

Ya pokoknya begitulah, pasti ada kan hal-hal yang sulit didefinisikan dengan kata-kata? Nah, Saya sering mengalami hal ini kalau ditanya “Tipe cowomu seperti apa?” :lol:

Saya selalu nge-blank kalau ditanya masalah beginian. Dulu sih pernah bikin daftar tipe cowok yang saya inginkan, tapi lama-lama daftar itu jadi terlupakan dan menghilang entah ke mana. Anehnya, semakin dipikir, saya semakin nggak paham tipe cowok seperti apa yang saya inginkan. Kalau ditanya, biasanya saya nggak jawab apa-apa atau kalo yang nanya maksa saya jadi asal jawab aja “yang baik deh pokoknya…”. Haha Baca lebih lanjut

Dunia yang Sebenarnya

Kadang kalau lagi diam dan berfikir. Kita akan menyadari bahwa dunia itu tak seindah dan semudah seperti yang kita pikirkan. Dunia dalam teori tak sama dengan kenyataannya. Jadi, ini saya sadari setelah lulus kuliah. Biasa lah, anak sekolahan yang idealis dan baru melihat “dunia yang sebenarnya”.

Awalnya memang kaget, tak menerima dan ingin rasanya melawan hal-hal yang tidak sesuai dengan teori kehidupan yang kita dapatkan di bangku sekolah. Tapi setelah benar-benar mengerti, mengenal dan memahami, ini adalah “dunia yang sebenarnya” dan tidak dapat berubah hanya karena kita tidak menyetujuinya.

Bahkan orang yang kelihatannya bijak, tak dapat lari dari urusan dunia yang tak sesuai dengan teori. Bisakah saya hidup tanpa terlibat dengan “dunia yang sebenarnya”?

Ingin hidup biasa saja, sederhana saja tanpa ikut terlibat dengan mereka yang bererlomba-lomba dalam “dunia yang sebenarnya”. Baca lebih lanjut

Menangis karena SMS

Sebenarnya saya sedang menunggu SMS dari seseorang hingga sore tadi. Jadi saat nada dering SMS berbunyi, saya langsung antusias membuka layar HP. Sengaja saya setting agar pop-up SMS muncul di layar sebelum di buka, agar saya bisa memilah, SMS mana yang perlu dibaca dengan segera atau tidak. Saya kecewa, ternyata SMS itu bukan dari orang yang saya tunggu-tunggu. Muncul nomor handphone di pop-up yang menandakan nomor itu tidak saya simpan. Sebagian SMS yang dapat terbaca di tulis dengan huruf besar dan kecil persis anak alay. Dari situ saya sudah bisa memastikan bahwa SMS itu dikirim oleh salah seorang anak SMA tempat saya melakukan penelitian dulu. Dia memang sering mengirimi saya SMS yang isinya seperti sedang update status atau sekedar mengucapkan selamat pagi/siang/sore. Biasanya SMS seperti itu tidak pernah saya baca dan tidak saya balas juga. Kecuali kalau dia mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan, biasanya saya balas. Tapi kali ini beda, ada tulisan “IBU” di sana. Kelihatannya SMS kali ini bagus, makanya saya buka. Dan ternyata….. sukses membuat saya menitikkan air mata.

Ini isi SMSnya: Baca lebih lanjut

Kangen Warga C59

Blok C No 59, adalah alamat kosan saya selama 4 tahun kuliah di kota orang. Saya sudah pernah cerita kan kalau di sini ada banyak makhluk gila. Ahaha

C59 adalah kosan yang terletak di ujung jalan blok C. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan beberapa kamar di dalamnya. Entah berapa jumlah kamarnya, saya lupa, yang pasti ada 22 kamar yang terisi saat saya kost di sana. Setiap kamar ditempati oleh satu orang saja, tidak ada yang satu kamar berdua. Hampir semua penghuni kosan ini adalah angkatan 2009, meski beda-beda jurusannya. Ada jurusan Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Ekonomi, Teknologi pertanian, Fakultas pertanian dan FKIP. Kebanyakan adalah anak Farmasi dan Kesehatan Masyarakat. Jadi kita akrab banget kaya sodara karena merasa teman satu perjuangan. Baca lebih lanjut

Romantis

Romantis itu….

Wanita mana yang nggak ingin diromantisin? Pasti pada berharap diromantisin sama belahan jiwa masing-masing ya. :D

Romantis nggak harus gombal sampe mulut berbusa kok, nggak usah lebay dan nggak perlu mewah. Romantis itu muncul dari ketulusan, bukan suatu hal yang dibuat-buat. Kasih bunga rumput ke pasangan aja sambil becanda, itu bisa jadi hal yang romantis. Nggak perlu pakai cincin mahal sambil baca puisi jiplakan dari internet.

Romantis dengan modal gitar dan suara fals juga bisa. Asalkan tulus, pasti bisa bikin sang belahan jiwa kelepek-kelepek deh, meski mungkin akhirnya dia bakal bilang, “besok-besok nyanyi nggak usah pake suara aja ya bang…” wkwkwk *becanda*

Jujur aja, romantis menurut saya itu, hal-hal yang sederhana seperti, makan sepiring berdua meski Cuma sama kerupuk, naik sepeda motor butut berdua sambil cerita hal-hal lucu, saling lempar senyuman dan candaan, perhatian, dan lain-lain. Jadi romantis itu kalau menurut saya, tercipta karena kita berhasil melewati keadaan sulit berdua. Romantis itu muncul dari ketulusan. Romantis itu nyampenya dari hati ke hati.

Cieee anis, kaya yang pernah di romantisin aja… Hahaha. (no comment) :D Baca lebih lanjut